PASUKALJA

Ridki rahman
Chapter #1

1. Jori

Suara derap langkah banyak kuda terdengar jelas, menggema di sepanjang jalan desa yang sepi di bawah langit malam.


Di balik jendela yang gelap, beberapa wajah tampak mengintip. Cemas, tak seorang pun berani keluar. Hanya suara kuda yang terus menguasai malam.


Rombongan itu semakin mendekat. Langkah kuda mereka yang berat dan teratur memecah keheningan, bergema di antara dinding-dinding rumah kayu yang diterangi cahaya redup dari lentera.


Beberapa orang di dalam kedai mendongak, memperhatikan kedatangan pasukan yang berhenti tepat di depan bangunan itu.


Lentera di samping dinding pintu berayun pelan, seakan ikut gugup melihat kehadiran mereka. Aroma arang bercampur minuman keras tercium jelas.


Jori menatap bangunan di depannya—tua, muram, dan nyaris tenggelam dalam cahaya malam.


"Kalian tunggu di sini," perintahnya tegas kepada para prajurit.


Suasana hening sesaat. Tak ada yang membalas, hanya angin malam yang berhembus pelan di antara rumah-rumah kayu.


Palmar menarik napas panjang dan menoleh ke arah Jori.


"Aku akan berkeliling sebentar," serunya. Suaranya terdengar ringan, tapi tak meminta izin.


Jori sempat menatapnya sekilas—dingin, namun seolah memahami sesuatu yang tak perlu dijelaskan.


Tanpa menunggu jawaban, Palmar sudah menarik kekang kudanya dan perlahan menjauh.


Jori hanya diam, mengamati punggung rekannya yang perlahan menghilang dalam gelap.


Beberapa prajurit saling pandang, tapi tak satu pun berbicara.


"Ayo, Kaufar," seru Jori.


Ia turun dari kudanya. Suara langkahnya memecah kesunyian saat kakinya menyentuh tanah. Sebelum melangkah masuk, Jori memperhatikan bagian atas pintu—tak ada nama, hanya sebuah gambar ayam yang dicetak di papan kayu usang.


Jori menarik napas pelan. Dengan percaya diri, ia melangkah masuk ke dalam kedai dan mendorong pintu kayu tua yang berderit pelan.


Krieeet...


Suara itu langsung menarik perhatian beberapa orang yang sedang duduk di dalam. Lantai kayu yang lapuk ikut berkeriut setiap kali Jori melangkah. Ia menilai setiap wajah di ruangan itu—para penjudi, petani, dan orang-orang yang menghindar dari gelapnya dunia.


Ruangan itu terasa pengap, dipenuhi aroma anggur murahan dan keringat. Semua mata tertuju kepadanya, tetapi tak satu pun dari mereka yang berani berbicara.


Jori berjalan dengan tenang. Posturnya yang tegap dan penuh wibawa membuat siapa pun yang melihatnya segera berpaling, takut tertangkap sorot matanya. Mantel hitam berdebu yang ia kenakan menegaskan sosoknya sebagai seorang pemimpin. Di belakangnya, Kaufar melangkah lebih pelan, sesekali melirik ke sekitar dengan waspada.


Mereka memilih duduk di salah satu sudut ruangan yang gelap, jauh dari keramaian. Meja mereka sedikit berdebu, dan di atasnya ada sisa potongan roti kering. Suara para pengunjung dari meja lain terdengar jauh, seolah mereka berada di dunia yang berbeda.


Tak lama, seorang pelayan muda menghampiri mereka. Tangannya gemetar saat membawa kendi anggur dan dua cangkir kayu yang usang.


"A-apa yang bisa saya bawakan lagi, Tuan?" tanyanya dengan suara lirih, gugup.


"Ini cukup," jawab Jori singkat. Nadanya datar, tapi penuh otoritas.


Pelayan itu buru-buru membungkuk, lalu segera pergi.


Jori menatap Kaufar yang duduk di depannya. Ia merasa ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh prajurit itu. Ia mengangkat alisnya pelan, menunggu. Tetapi setelah beberapa detik, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut rekannya itu.


"Ada yang ingin kau katakan, Kaufar?" tanyanya.


"Palmar biasanya tidak seperti itu," kata Kaufar, akhirnya membuka mulut. "Menurutmu, ada sesuatu yang terjadi, Tuan Jori?"


"Entahlah. Aku pun tidak tahu. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu," jawab Jori pelan.


"Ya, mungkin..." sahut Kaufar. "Tapi yang kulihat, sejak kita tiba di desa ini, dia terlihat... berbeda."


Jori tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak. Ada sesuatu di benaknya—mungkin Palmar menyembunyikan sesuatu. Tapi ia tak terlalu memikirkannya.


"Ternyata kau cukup perhatian," ujarnya dengan nada sedikit meledek.


"Tidak, bukan seperti itu. Maksudku—"


"Ya, ya, aku tahu maksudmu," potong Jori sambil meraih kendi anggur, berniat menuangkannya ke dalam cangkir.


"Biar saya saja, Tuan," seru Kaufar. Ia segera mengambil kendi itu dari tangan Jori.


Dengan hati-hati, ia menuangkan anggur ke dalam cangkir Jori, lalu ke cangkir lainnya untuk dirinya sendiri.


Jori menatap cairan merah tua di cangkirnya, seolah pikirannya melayang entah ke mana.


Belum sempat mereka mencicipi minuman pertama, pintu bar tiba-tiba terbanting terbuka. Seorang prajurit muncul dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak tegang. Ia berdiri tegap di hadapan Jori dan memberi hormat.


"Tuan Jori!" serunya terengah-engah.


"Ada apa?" jawab Jori.


"Seseorang di desa ini mengaku melihat sekelompok orang masuk ke dalam hutan."


Jori menghentikan cangkirnya di udara, matanya yang tajam langsung menatap sang prajurit. "Bawa dia ke sini," perintah Jori dengan nada tegas namun tenang.


Prajurit itu keluar dan kembali beberapa menit kemudian, membawa seorang pria desa dengan pakaian lusuh. Ia tampak gelisah, matanya sesekali melirik ke arah lain.


"Kau yakin melihat sekelompok orang masuk ke dalam hutan?" tanya Jori, menatap dengan tajam ke arah pria desa yang berdiri di depannya.


"Y-ya, Tuan... aku melihatnya sendiri," jawab pria itu dengan suara gemetar. "Ada beberapa orang berlari masuk ke dalam hutan."


Kaufar, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Apa kau melihat seorang wanita di antara mereka?"


Pria desa itu terdiam, matanya berkedip cepat seolah mencari kepastian. Lalu, dengan ragu, ia mengangguk. "Ya... mungkin. Aku tidak yakin, Tuan. Karena saat itu sudah mulai gelap. Tapi aku rasa aku melihatnya."


Jori menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah prajuritnya. Tanpa ragu, ia mengangkat tangan, memberi isyarat tanpa kata.


"Perintahkan yang lain untuk bersiap. Kita akan masuk ke hutan sekarang," kata Jori, suaranya tak memberi ruang untuk penolakan.


"Siap, Tuan!" seru prajurit itu. Ia lalu berbalik, berjalan cepat keluar bar.


Sebelum pria desa itu sempat melangkah mundur, Jori menunjuk ke arahnya.


"Beri dia satu keping emas," ucapnya datar.

Lihat selengkapnya