Jori, Palmar, dan Kaufar duduk tegap di atas kuda mereka. Sosok mereka tampak seperti bayangan kelam yang menyatu dengan pekatnya malam. Mantel mereka berkibar tertiup angin, membawa kesan dingin yang semakin menyesakkan. Namun di balik sorot mata mereka, tergambar jelas sesuatu yang mengganjal—kecemasan yang nyaris tak terucap.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, memantulkan cahaya bulan yang samar. Udara terasa berat, kuda mereka sesekali meringkik. Mungkin menyadari sesuatu yang tidak mereka pahami.
"Jangan lupa tandai setiap pohon," kata Palmar, suaranya tegas—meski samar, ada getaran di sana. Matanya menatap barisan prajurit yang mengikuti di belakang. "Kita tidak boleh tersesat di sini... atau kita tidak akan pernah keluar."
Beberapa prajurit saling bertukar pandang, tapi tak seorang pun menjawab. Hanya suara langkah kaki kuda dan ranting patah yang mereka injak.
Angin dingin berhembus lagi, membawa aroma lembap tanah hutan yang menusuk. Jori menoleh ke Palmar, tatapan matanya penuh kehati-hatian. Ia bisa merasakan ketegangan itu—bukan hanya dari pasukannya, tetapi juga dari dalam dirinya sendiri.
"Kita harus tetap tenang, dan terus bergerak," ujarnya pelan namun tegas, seolah tak ingin kata-katanya terbawa angin.
"Menurutmu, cerita tentang hutan ini nyata?" tanya seorang prajurit kepada rekannya yang berjalan di sampingnya.
"Aku tidak tahu," jawab prajurit itu sambil menghela napas pelan. "Tapi ibuku pernah bilang, tak ada cerita yang lahir tanpa alasan. Jika orang-orang takut pada sesuatu selama ratusan tahun, pasti ada kebenaran di baliknya."
Seorang prajurit lain yang mendengarkan percakapan itu menoleh, lalu berkata dengan nada rendah namun penuh keyakinan, "Aku percaya. Lihatlah... pohon-pohon ini."
Dua prajurit lainnya mengikuti arah pandangan rekannya, memperhatikan pohon-pohon besar yang berdiri kokoh di sekitar mereka. Pepohonan itu terlihat suram, seperti diam-diam memperhatikan setiap gerakan mereka.
"Pohon-pohon ini. Hidup," lanjut prajurit itu sambil menatap batang-batang pohon di sekelilingnya. "Mereka mengawasi kita—setiap langkah kita."
Seorang prajurit di belakang mereka tiba-tiba menyahut dengan suara pelan, hampir berbisik. "Ssst... diam, jangan terus bicara. Kalian tidak ingin bernasib sama seperti prajurit bodoh itu, kan?"
Hening seketika menyelimuti rombongan. Tak ada lagi yang berani membuka mulut. Langkah-langkah mereka kembali teratur.
Terus melangkah tanpa henti. Semakin jauh dan semakin dalam mereka masuk ke hutan. Suasana semakin sunyi. Tak ada lagi suara serangga yang biasanya ramai di malam hari. Hening yang mencekam, hanya dipecahkan oleh langkah kaki para prajurit, gemerisik baju besi yang saling bergesekan, serta denting lirih pedang yang sesekali berbenturan dengan sabuk kulit di pinggang mereka.
Kabut mulai turun lebih tebal. Cahaya obor di tangan para prajurit perlahan meredup, seperti tersedot oleh kegelapan yang menutup dari segala arah.
Jori merasakan ada yang tidak beres. Langkah kudanya terasa aneh, seolah melayang, dan pandangannya mulai buram. Kegelapan hutan di sekelilingnya terasa menekan, semakin sunyi hingga hanya ada suara napasnya sendiri.
Dengan gerakan tegas, ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar seluruh prajurit berhenti. "Semua bersiap!" perintahnya, singkat namun menggema—penuh otoritas.
Suara dentingan logam terdengar ketika para prajurit menarik pedang mereka, bersiap menghadapi apa pun yang mungkin tersembunyi di balik kabut. Namun, sesuatu terasa salah. Rasa dingin merayap ke tulang-tulangnya, dan udara terasa berat, seperti ada mata tak terlihat yang mengintai dari kegelapan.
Dadanya naik turun cepat. Ia mencoba menenangkan napas, tapi setiap embusan terasa seperti disedot oleh kegelapan di sekeliling. Ada sesuatu di balik kabut itu—ia yakin, sesuatu sedang mengawasinya.
"Palmar!" Jori memanggilnya, tapi tak ada jawaban. "Palmar!"
Jori memutar tubuhnya, ingin memastikan semuanya dalam posisi. Namun, yang ia lihat membuat napasnya tertahan. Tak ada seorang pun di belakangnya. Tak ada jejak langkah. Tak ada suara napas. Tak ada ranting patah. Hanya kesunyian yang merayap, menelan semuanya. Barisan prajurit yang tadi berdiri kokoh di sana kini menghilang—lenyap begitu saja. Kini ia berdiri seorang diri di tengah hutan yang mencekam, hanya ditemani kuda tunggangannya.
Ia menatap sekeliling dengan mata lebar. Tidak mungkin... barisan itu terlalu besar untuk lenyap tanpa suara. Semuanya terasa lebih gelap dan sunyi dari biasanya.
"Kaufar!" panggilnya lagi, kali ini suaranya menggema jauh.
Tidak ada jawaban, hanya bisikan angin yang terdengar seperti suara samar-samar. Perasaan aneh menjalar di tubuhnya—dingin, menusuk hingga ke tulang. Dengan kuda yang masih setia berdiri di sampingnya, ia memutuskan untuk berbalik, berjalan perlahan menyusuri jalan yang sama.
"Palmar..." panggilnya lagi, suaranya mulai melemah, nyaris seperti permohonan.
Langkah kuda itu melambat hingga hampir berhenti, ketika Jori melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah rumah tua berdiri di tengah rerimbunan pepohonan. Bangunannya terlihat familiar—seperti sebuah kenangan yang berusaha bangkit dari kelamnya masa lalu.
Di depan rumah itu berdiri seseorang. Sebuah bayangan, siluet samar yang tampak menunggu dalam diam.
Dengan hati-hati, Jori mengarahkan kudanya mendekati bangunan itu. Langkahnya begitu pelan, seolah waktu melambat di sekitar mereka. Ia memegang erat gagang pedangnya, berjaga-jaga jika sosok itu adalah ancaman.
Bayangan di depannya tidak bergerak. Namun, Jori merasakan sesuatu.