Tok... tok... tok...
Seseorang mengetuk pintu rumahnya. Suara itu memecah keheningan malam. Angin berhenti berembus, seolah ikut mendengarkan suara ketukan itu.
Jori berjalan ke arah pintu, hatinya sudah tahu apa yang menantinya. Ia menarik pedang dari sarungnya. Dengan napas berat, ia membuka pintu perlahan. Setiap detik terasa panjang, seakan waktu sendiri menahan napas. Di baliknya berdiri tujuh orang berjubah gelap. Senyum samar menghiasi wajah mereka, sementara mata mereka memancarkan kilatan tajam—bagaikan serigala yang siap menerkam. Wajah Jori tetap datar, tapi matanya menyala seperti bara yang disiram angin.
“Tujuh,” gumam Jori pelan.
Tanpa sepatah kata, Jori melangkah maju. Ia mengangkat pedangnya tinggi, memberikan isyarat bahwa ia siap bertempur.
“Jika kalian ingin aku, maju satu per satu. Jangan seperti pengecut!” katanya dingin dan tegas.
Salah satu dari mereka melangkah maju. Tanpa ragu, orang itu mencabut pedangnya.
Sring!
Tanpa banyak bicara, mereka langsung beradu pedang.
Clang! Clang! Clang!
Benturan baja segera memenuhi udara malam yang dingin. Duel berlangsung cepat—terlalu cepat. Dengan gerakan lincah, Jori mengalahkan lawannya dalam beberapa ayunan saja. Tubuh pria berjubah itu tersungkur ke tanah, darah mengalir dari luka di dadanya.
Napas Jori memburu, tapi genggamannya pada pedang tidak goyah. Darah menetes dari ujung pedangnya, memantulkan cahaya bulan yang pucat.
Melihat itu, keenam orang lainnya tampak ragu. Namun mereka segera menyadari bahwa melawan Jori satu per satu bukanlah pilihan bijak. Mereka bertukar pandang, lalu menyerang Jori bersama-sama.
Jori mengertakkan giginya, menyadari bahwa ia tidak mungkin melawan mereka semua sekaligus di tempat sempit seperti ini. Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan pedangnya untuk menciptakan jarak, lalu berlari ke arah kudanya dan menungganginya menuju hutan.
Bayangan pohon-pohon yang menjulang tinggi menjadi sekutunya, menyembunyikan tubuhnya dalam kegelapan. Hutan adalah tempat yang ia kenal seperti punggung tangannya, tetapi musuh-musuhnya tidak akan menyerah begitu saja. Mereka mengejarnya. Derap langkah kuda mereka terdengar semakin dekat di belakangnya.
Jori menarik kekang kudanya, berbelok, lalu berhenti di bawah pepohonan yang rimbun. Ia tidak punya rencana, tidak sempat memikirkan strategi apa pun. Hanya satu hal yang memenuhi pikirannya. Ia harus membunuh semua pengecut itu, apa pun caranya.
Namun di tengah ketegangan yang mencekam, ide-ide liar mulai bermunculan dalam benaknya.
Daripada terus diburu, kenapa tidak menjadi pemburu?
Dengan tekad bulat, Jori memutuskan bersembunyi di kegelapan hutan, menunggu saat yang tepat. Ketika enam orang itu melintas tanpa menyadari keberadaannya, ia bergerak diam-diam—bagaikan bayangan yang mengintai.
Hanya suara daun kering yang retak di bawah tapak kudanya, sepelan hembusan napasnya. Dengan gerakan cepat dan mematikan, ia menebas musuh pertama tepat di punggung.
“Satu,” gumam Jori.
Ia langsung menebas musuh satunya lagi.
“Dua,” gumam Jori lagi.
Mereka seketika jatuh dari atas kuda tanpa sempat berteriak. Suara tubuh menghantam tanah membuat satu orang di depan mereka menghentikan langkah, lalu menoleh ke belakang. Sadar ada bahaya, orang itu segera memutar arah kudanya, bersiap menghadapi Jori.
Tanpa ragu, lawannya menyambar cepat dengan pedangnya. Namun Jori sigap menangkis serangan itu.
Clang!
Dentingan logam menggema di tengah hutan yang sunyi. Dalam sekejap, Jori membalas. Pedangnya berkelebat cepat.
Srak!
Menebas leher lawan dengan presisi.
“Tiga,” gumam Jori.
Darah hangat memercik di udara, dan tubuh pria itu roboh dari kudanya tanpa sempat berteriak.
Tiga musuh lainnya menyadari suara dentingan logam itu. Mereka menghentikan langkah kuda dan memutar balik. Dari kejauhan, mereka melihat Jori berdiri di antara tubuh tak bernyawa rekan mereka. Namun sebelum sempat bertindak, Jori sudah memacu kudanya ke arah mereka, pedangnya berkilat di bawah remang malam.
Kuda Jori melaju cepat. Ia memindahkan pedang ke tangan kirinya, menggenggam tali kekang erat-erat. Tangan kanannya meraih sesuatu dari belakang bajunya—sebuah kapak kecil yang ia sembunyikan. Begitu kapak itu tergenggam, ia melemparkannya dengan presisi.
Brak!
Kapak itu menghantam salah satu musuh tepat di dadanya. Orang itu seketika jatuh dari kuda dan tak bergerak lagi.
“Empat,” gumam Jori sambil memindahkan ke tangan kanannya kembali, menggenggam pedangnya erat-erat.
Musuh berikutnya datang. Jori menyerangnya cepat, tetapi lawannya berhasil menghindar dan membalas dengan serangan kilat.
Srit!