PASUKALJA

Ridki rahman
Chapter #4

4. Lari

Angin malam berhembus pelan, dingin menusuk kulit.


Kesadaran Jori perlahan kembali. Ia terbangun di tengah hutan, tubuhnya tergeletak di atas dedaunan basah. Di sekelilingnya, para prajurit terlelap di atas tanah, wajah mereka letih.


Napasnya tersenggal, jantungnya berdetak kencang, tubuhnya lemah, tetapi pikirannya begitu jernih. Ia mendongak, menatap langit yang diselimuti ranting-ranting pohon saling bersilangan.


"Hanya sebuah mimpi," gumamnya hampir tak terdengar. Meski begitu, ada rasa lega yang merayap di dadanya. Satu hal yang selama ini mengganjal hatinya seolah hilang.


Jori tetap terbaring, menatap ke arah langit, tapi ia merasa ada yang aneh. Ranting-ranting di atasnya seolah bergerak perlahan. Namun, saat ia memperhatikan lebih saksama, ia sadar sesuatu—bukan ranting yang bergerak, melainkan dirinya. Tubuhnya ditarik.


Dengan napas terengah, Jori menoleh ke arah kakinya. Matanya melebar saat melihat sesuatu menyerupai akar pohon melilit dan menyeret tubuhnya. Tanpa ragu, ia meraih kapak kecil yang terselip di belakang bajunya, lalu menebas akar itu. Akar yang terputus mengeluarkan cairan berlendir berkilauan, seolah hidup. Tiba-tiba, akar itu bergerak mundur, menyelinap ke dalam kegelapan.


Jori bangkit perlahan, pandangannya menyapu sekitar. Beberapa prajuritnya yang tertidur pulas kini juga diseret oleh akar yang sama. Tanpa membuang waktu, Jori meraih pedang yang tergeletak di tanah dan dengan gerakan sigap menebas akar-akar yang menyeret tubuh rekan-rekannya satu per satu.


"Palmar!" teriaknya penuh kekhawatiran. "Palmar!"


Ia melihat sahabatnya sedang ditarik lebih jauh, hampir masuk ke semak-semak. Tanpa berpikir panjang, Jori berlari, menebas akar-akar yang menghalangi jalannya. Ia menarik tubuh Palmar menjauh.


"Palmar! Bangun, Palmar!" teriaknya keras, namun Palmar tetap tak bergeming. Ia mengguncang bahu sahabatnya, bahkan menampar wajahnya, tetapi tak ada respons.


Putus asa, sebuah ide kecil terlintas di benaknya. Jori lalu menyayat pelan tangan Palmar hingga darah keluar.


Sesaat setelah itu, Palmar terkejut dan membuka matanya.


"Ha... ha... ha... ibu... ibu... di mana ibuku?" tanya Palmar setelah terbangun. Matanya penuh kebingungan dan kecemasan.


"Tenang, Palmar, tenang. Itu hanya sebuah mimpi," jawab Jori dengan suara tegas namun penuh pengertian.


"Tapi..." ujarnya lirih, masih terisak.


Plak!


Jori tiba-tiba menampar wajah Palmar.


"Dengarkan aku!" katanya dengan serius. "Kita sekarang berada di hutan. Ingat?"


Palmar tak menjawab. Ia hanya mengangguk.


"Bantu aku membangunkan para prajurit, sayat sedikit tangan mereka. Paham?!" seru Jori.


Palmar hanya mengangguk cepat, tanda bahwa dia mengerti.


Jori lalu mengulurkan tangannya, menarik Palmar untuk membantunya bangkit. Bersama-sama mereka mulai membangunkan satu per satu prajurit yang masih tertidur lelap. Setelah beberapa saat, satu per satu prajurit itu terjaga dan berkumpul di hadapan pemimpin mereka—Jori.


Wajah mereka tampak bingung, sebagian bahkan terlihat kosong. Ada yang mengusap wajah dengan linglung, ada yang terisak pelan.


"Berapa?" tanya Jori tegas pada Palmar.


"Dua belas... hilang lima, termasuk Kaufar," jawab Palmar dengan suara parau.


Jori menarik napas panjang, mencerna situasi. "Kalian mungkin bingung dengan apa yang terjadi, tapi tenang. Itu semua hanya mimpi. Mimpi yang sangat indah. Tapi Ingat, kita di sini, kita berada di hutan ini, untuk mencari tawanan ya—."


Aaaaarghhh!


Tiba-tiba terdengar jeritan nyaring dari arah belakang para prajurit.


Wajah mereka langsung berubah tegang, kecemasan memenuhi udara.


Angin terasa berhenti, dedaunan mulai berjatuhan pelan seakan takut akan suara jeritan itu.


Tanpa ragu, Jori berteriak lantang, "Semua, bersiap!"


Ia menarik pedangnya, melangkah cepat menuju sumber suara. Serentak para prajurit menarik pedangnya, mengikuti langkah Jori.


Dengan hati-hati, Jori dan pasukan yang tersisa bergerak maju.


Aaaaarghhh!


Suara itu kembali terdengar, menggema di hutan.


Suasana seketika hening, hanya terdengar suara langkah kaki dan napas mereka yang memburu. Jori memimpin di depan, matanya tajam mengamati sekitar. Dengan tekad bulat, ia terus mendekati asal suara itu, siap menghadapi apa pun yang menanti di balik sana.


Seketika mereka tercengang. Di hadapan mereka berdiri sebuah pohon raksasa, menjulang tinggi seolah menyentuh langit malam. Dahan-dahannya yang lebat menutupi cahaya rembulan, menciptakan bayang-bayang gelap di bawahnya. Saat Jori dan pasukannya mendekat, mereka melihat sesuatu yang ganjil.


Di bawah pohon itu tampak sosok-sosok prajurit yang hilang—wajah mereka pucat dengan tatapan kosong. Bukan hanya itu, tulang belulang pun berserakan di sekitarnya.

Lihat selengkapnya