Hujan rintik-rintik terus berjatuhan, membasahi tanah berlumpur di bawahnya. Cahaya bulan bersinar samar, membuat bayangan dua sosok berpakaian serba hitam semakin jelas dalam kegelapan. Di hadapan mereka, seorang pria berlutut dengan wajah penuh luka dan mata dipenuhi ketakutan.
"T-tolong... ampuni aku. Aku akan memberikan apa pun," suara pria itu bergetar. Darah mengalir dari hidungnya, bercampur dengan air hujan yang menyatu di tanah. "Uang, wanita... a-apa pun yang kalian inginkan! Hanya... hanya jangan bunuh aku!"
Dia merangkak mendekat. Tangannya lebam. Gemetar. Meraih sepatu salah satu pria di depannya. Ia menciumnya lalu menjilatnya dengan penuh keputusasaan.
Kedua pria itu menatap ke bawah, tanpa emosi. Seakan yang ada di depannya hanyalah lumpur, bukan makhluk hidup.
"Aku mohon..." suaranya parau. Ia mulai menangis. "Huu-huu... aku bisa membayar kalian, lebih banyak dari orang itu!"
Salah satu dari mereka, pria bertubuh tegap dengan sorot mata tajam, menghela napas.
"Selesaikan," katanya singkat, lalu melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.
Rekan yang satunya—lebih ramping, lebih tenang—menghela napas pelan. Matanya dingin, seolah melihat pria di hadapannya bukan sebagai manusia, melainkan sekadar tugas yang harus diselesaikan. Ia menarik pedang dari sarungnya. Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan pedangnya.
Srek!
Darah hangat muncrat, melukis merah di tanah becek. Kepala pria itu terpisah dari tubuhnya dalam sekejap. Tubuhnya jatuh dengan suara berat, sementara kepalanya menggelinding pelan sebelum dihentikan oleh ujung sepatu pembunuh bayaran itu.
Mata korban masih terbuka lebar, membeku dalam ketakutan yang tak sempat padam.
Tanpa ragu, ia mengangkat kepala itu dan memasukkannya ke dalam karung goni yang dibawanya. Bau darah bercampur dengan aroma tanah basah, sedikit menutupi amis yang menyebar. Tanpa sepatah kata, ia melangkah pergi, menyusul rekannya yang sudah lebih dulu berjalan ke arah kuda mereka. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti, ia menoleh ke belakang cukup lama, lalu mulai berjalan kembali.
Mereka tidak berbicara. Tidak ada kata-kata selamat, tidak ada kepuasan dalam pembunuhan ini. Hanya tugas yang telah diselesaikan. Seperti yang selalu mereka lakukan.
Mereka naik ke atas kuda, lalu tanpa suara, berjalan pergi menghilang dalam gelapnya malam.
Di atas pelana, dua pembunuh bayaran itu menyusuri jalan setapak yang sepi. Hujan telah reda, menyisakan udara dingin yang menusuk.
"Kenapa bagian akhir selalu aku? Kenapa tidak kau saja?" tanya Reiga.
Ia pria bertubuh ramping yang baru saja mengeksekusi target, mendengus kesal sambil mengusap noda darah di sarung tangan kulitnya. Raut wajahnya tampak lelah, meski sorot matanya tetap tajam.
Dali, rekannya, tertawa kecil sembari menarik tali kekang kudanya.
"Karena tanganmu lebih cepat dariku, Reiga," jawabnya sambil memamerkan lengannya yang besar. "Kau selalu menyelesaikan semuanya dengan sekali ayunan. Tak ada darah yang terbuang percuma."
"Alasan," timpal Reiga. "Kau bisa melakukannya kalau mau."
"Mungkin," kata Dali sambil mengangkat bahunya dengan santai. "Tapi aku lebih suka kau yang melakukannya."
Reiga menatap tajam ke arahnya.
"Aku tahu, kau hanya tak suka melihat wajah mereka sebelum mati kan?" suaranya terdengar lebih berat.
Hening sejenak, lalu Dali tertawa kecil.
"Hahaha... ya, bisa jadi. Aku lebih suka melihat mereka di saat mereka masih punya harapan. Sebelum kau—" Dali mengangkat tangannya, menggerakkannya tepat di leher, menggambarkan gerakan memotong.
Reiga menghela napas, menggelengkan kepalanya pelan. "Sialan kau."
Dali tersenyum samar, memandang lurus ke depan. "Kita sama Reiga, kita sama. Hanya sedikit berbeda."