Malam masih panjang.
Dali turun dari kudanya, lalu menuntun hewan itu ke dahan kayu di luar kedai, tempat tali-tali kuda biasa diikat. Dari luar bangunan, riuh suara orang-orang terdengar sangat jelas, bahkan sebelum ia mendorong gagang pintu itu.
Dali mendorongnya perlahan dan benar saja, suasana di dalam sangat ramai. Bau alkohol menggantung di udara, bercampur dengan tawa kasar para penjudi. Ia lalu duduk di kursi depan, dekat dengan pelayan.
"Ramai sekali?" tanya Dali sambil melirik sekeliling.
"Ya, lumayan," jawab Difal, pelayan kedia itu, sembari mengelap sebuah gelas. "Seperti biasa?" tanyanya.
"Ya, seperti biasa," jawab Dali.
Difal kemudian meraih sebuah gelas, meletakkannya di depan Dali, lalu menuangkan air ke dalamnya.
"Di mana Reiga?" tanya Difal.
"Biasa, kau tahu kan," jawab Dali sambil menyesap minumannya. "Ke tempat kumuh itu."
"Larga, ada di mana?" tanya Dali.
"Dia ada di atas," jawabnya sambil menunjuk ke arah lantai atas. "Sepertinya ada tamu penting."
Dali menoleh ke arah tangga kayu yang menuju lantai atas. Tangga itu tampak sepi, tapi dari atas terdengar samar-samar suara langkah dan percakapan rendah.
"Siapa?" tanya Dali.
"Aku tidak tahu, tapi aku melihat... lambang kerajaan," bisik Difal. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Ya..."
BRAAKK!
Suara itu berasal dari belakang Dali. Sebuah meja terjungkal dan beberapa gelas pecah. Dali menoleh dengan gelas yang masih di genggamannya. Ia sudah hafal jenis suara seperti itu, malam yang tenang tak mungkin berakhir damai di tempat seperti ini. Seisi ruangan sontak menoleh. Suasana mendadak tegang.
"Kau ingin bertarung?!" tantang seseorang dengan suara penuh emosi.
"Ya, ayo!" jawab pria satunya, matanya menyala penuh amarah.
Ia mengangkat kedua tangannya, lalu mengepalkannya. Pria satunya pun melakukan hal yang sama.
Kursi-kursi mulai bergeser, sebagian orang mundur, tapi sebagian lain justru mendekat, ingin menonton. Ruangan terasa berubah.
Tanpa banyak bicara, mereka langsung saling melayangkan pukulan. Suasana kedai semakin memanas, dan sorak-sorai para pengunjung pecah melihat pertarungan itu.
"Pukul dia!" suara orang-orang berteriak. "Jangan beri dia ampun!"
Dali dan Difal saling melirik.
"Kau yang melerai mereka, atau aku?" tanya Dali. "Tapi kau tahu kan, bayaranku tidak murah." Dali tersenyum licik.
Difal menarik napas pendek. "Kau saja. Nanti aku beri satu gelas lagi... gratis," jawabnya.
"Oke," kata Dali.
Ia kemudian meletakkan gelasnya dan berdiri, berjalan menghampiri dua pria yang sedang berkelahi itu. Tanpa kata sambutan, Dali melayangkan tendangan ke kaki salah satu pria dengan keras. Pria itu kehilangan keseimbangan, jatuh terduduk sambil mengerang. Tak sampai situ, Dali menghantam wajahnya dengan tinju telak. Pria itu jatuh, terkapar di lantai.
Beberapa pengunjung bersiul, yang lain tertawa puas, menyaksikan aksi Dali. Dali mengibaskan tangannya, seolah baru saja mengusir lalat.
Melihat itu, pria satunya langsung bereaksi. Mencoba menyerang Dali, dengan melayangkan tendangan. Namun, Dali sigap memiringkan tubuhnya, menghindari serangan itu dengan mudah. Lawannya kembali mencoba melayangkan pukulan, tetapi Dali menangkisnya, mencengkeram pergelangan tangannya, lalu membantingnya ke lantai.
Brak!
Tubuh pria itu menghantam lantai kayu dengan keras, membuat beberapa pengunjung tersentak.
"Iya, seperti itu," sorak para pengunjung. Menikmati pertarungan itu seolah tontonan gratis di malam yang membosankan.
Namun, Dali terlalu fokus untuk peduli pada sorakan itu. Saat ia mengalihkan pandangan sejenak, pria pertama yang tadi tersungkur ternyata sudah bangkit diam-diam dari belakangnya.
Buk!
Tinju keras menghantam wajah Dali. Kepalanya terdorong ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya. Ia terhuyung selangkah, lalu berhenti. Rahangnya mengatup rapat, matanya menyala penuh amarah.
Suasana mendadak hening. Hanya suara tetesan air dari meja yang tumpah.
Pria itu tersenyum sombong, berpikir dirinya menang, tanpa tahu apa yang akan datang berikutnya.
Dalam hening itu, Dali menatap kosong ke lantai beberapa detik. Ia tersenyum, lalu perlahan mengangkat wajahnya sambil memegang rahangnya yang terasa berdenyut. Tatapannya berubah. Ada sesuatu yang dingin dan mematikan di sana, membuat beberapa orang di sekitar secara refleks mundur selangkah.
Dengan cepat, Dali meraih kerah pria itu, mencengkeramnya erat-erat. Tanpa memberi kesempatan, ia menghujani wajahnya dengan pukulan bertubi-tubi.
Buk! Buk! Buk!
Darah mulai mengotori tinjunya. Wajah pria itu sudah penuh luka, tapi Dali belum berhenti. Nafasnya tersengal, amarahnya masih membara.
Ruangan yang semula riuh mendadak sunyi. Para pengunjung yang awalnya bersorak kini membisu. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru napas Dali dan pukulan yang terus berlanjut.
Tiba-tiba, seseorang memegang tubuhnya dari belakang, lalu menariknya.
"Cukup! Dali! Cukup!"
Suara itu tajam dan mendesak. Dali menoleh. Reiga berdiri di belakangnya, kedua tangannya mencengkeram tangan Dali dengan kuat. Wajahnya tegang, matanya menatap tajam.
Tatapan mereka bertemu sesaat—singkat, tapi cukup untuk menyadarkan Dali. Reiga mengenal tatapan itu, tatapan Dali saat kehilangan kendali.
Dali melirik ke sekeliling, melihat semua mata tertuju padanya.
"Apa?!" seru Dali. "Belum pernah lihat orang berkelahi, hah?!"
Beberapa orang buru-buru memalingkan wajah, enggan terlibat lebih jauh.
Dali menghela napas panjang, lalu melepaskan genggamannya. Ia berbalik dan berjalan keluar, darah di tangannya menetes pelan ke lantai.
Pria yang ia pukuli terkapar di lantai, wajahnya berlumur darah.
Reiga menghela napas, lalu menoleh ke seorang pria di sudut ruangan.
"Kau temannya?" tanyanya dingin.