Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Jon melangkah perlahan melewati jalan setapak berbatu, hanya diterangi cahaya obor yang ia genggam. Jubah lusuhnya berkibar sedikit tertiup angin, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari kota seberang. Langkahnya melambat saat rumah kayunya yang sederhana mulai terlihat di ujung jalan.
Untuk sesaat, Jon hanya berdiri memandangi rumah itu. Atapnya yang miring, dinding kayu yang mulai lapuk, semuanya tampak sama. Namun entah mengapa, malam ini rumah itu terasa lebih sepi dari biasanya.
Begitu sampai di depan pintu, ia meraba kantung bajunya, mengeluarkan kunci besi kecil, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci.
Engsel pintu berderit pelan saat ia mendorongnya terbuka. Sebelum melangkah masuk, ia melepas sandal kayu yang di kenakannya.
Jon berjalan ke sudut ruangan masih memegang obor di tangannya. Mengambil lentera yang tergantung di dinding sana. Jon mengambilnya. Lalu menyalakan sumbu lentera dengan menyalurkan api dari obor. Setelahnya obor lalu dipadamkan, digantikan oleh cahaya lentera yang tak terlalu terang. Namun lebih dari cukup untuk pencahayaan di rumah sederhananya itu.
Udara di dalam ruangan terasa lembap. Tikus-tikus berdecit, berlari menjauh karena kepulangan Jon. Aroma kayu tua mengambang di udara, bercampur dengan bau minyak tanah yang terbakar di dalam lentera. Setiap sudut ruangan tampak dipenuhi bayangan, seolah waktu di tempat ini berhenti sejak kepergiannya.
Jon menghela napas dalam. Ia berjalan ke sudut ruangan lain, mengambil kantung anggur yang tergantung di dinding, lalu menuangkan isinya ke dalam cangkir kayu. Malam ini cukup dingin, dan minuman itu akan sedikit membuat tubuhnya hangat. Ia membawa cangkir, kantung anggur, dan lenteranya ke meja kecil di tengah ruangan. Duduk di kursi reyot, lalu membuka sebuah buku tua yang kertasnya sudah menguning.
Namun, sebelum sempat menyesap anggurnya, sesuatu yang dingin menyentuh lehernya. Tajam.
Napasnya seketika tertahan. Ia tak berani bergerak. Bahkan menelan ludah pun terasa berisiko. Ia membeku.
"Diam. Cepat berdiri," perintah seseorang dengan suara pelan dan dalam dari belakangnya. Napas Jon terasa berat. Tangannya refleks mengepal di atas meja.
"Siapa kalian?" tanyanya setenang mungkin, meskipun ia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Sssttt... diam."
Seseorang di belakangnya bergerak sedikit. Dengan santai, tangan asing itu meraih cangkir anggurnya dan menyesap isinya.
Jon ingin segera bergerak, tapi rasa dingin di lehernya menahan semua keberaniannya. Ia hanya bisa menatap kosong ke depan, mendengarkan setiap tegukan yang terdengar jelas di tengah keheningan ruangan itu.
"Sekarang... berbaliklah pelan-pelan," perintahnya lagi.
Jon mengembuskan napas, lalu berbalik perlahan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Di bawah cahaya remang-remang lentera, ia melihat dua sosok di balik bayangan. Matanya seketika membelalak.
Dua pria di depannya menatapnya dengan senyum licik. Salah satu dari mereka masih memegang pisau kecil, sedangkan yang lain bersedekap dengan tawa tertahan.
"Dali? Reiga?"
Tawa meledak dari keduanya.
Jon mengumpat. "Bajingan kalian!"
Reiga hanya terkekeh, sementara Dali meletakkan pisau kecilnya ke meja.
"Apa kau benar-benar berpikir kami adalah perampok?" tanya Reiga, masih tertawa.
Jon menghela napas, lalu tanpa pikir panjang menarik keduanya ke dalam pelukan kasar.
"Kapan kalian datang?" tanyanya, setengah lega, setengah kesal. Bahunya baru saja merasakan hangat tubuh dua sahabat lamanya, sesuatu yang tak ia rasakan selama bertahun-tahun.
"Baru saja," jawab Reiga santai. "Apa kau tadi hampir mengompol, pria kecil?"
Jon mendengus. "Mungkin." Ia tersenyum dan meraih kembali kantung anggurnya. "Kalau begitu, kalian berdua yang harus menuangkan minuman sekarang."
Dali dan Reiga menatapnya, lalu tertawa kecil. Tanpa banyak bicara, Dali meraih kantung anggur itu dan menuangkannya ke dalam gelas kayu yang sudah tampak kusam. Mereka bertiga duduk bersama, dan mulai bercerita. Percakapan berlangsung hangat.
Jon mengambil dua cangkir lagi dan langsung menuangkan anggur ke dalamnya.
"Aku tidak minum alkohol," kata Reiga tiba-tiba.
Jon tertawa kecil. "Ah iya, salahku, aku sudah lupa. Sudah sangat lama sejak terakhir kali kita bertemu," katanya. Ia pergi kembali ke sudut ruangan.
"Berapa tahun kalian tidak ke sini?" seru Jon sembari menuang air dari kendi kecil di dapur. "Tiga tahun? Empat tahun?"
"Tepatnya lima," jawab Reiga. "Apa karena umurmu sudah tua, jadi kau mulai pelupa?"
Jon duduk kembali. "Setua-tuanya aku, masih lebih tua dai," ia menunjuk ke arah Dali, lalu tertawa terbahak-bahak.
Dali dan Reiga tersenyum, lalu tertawa kecil.
Perlahan tawa mereka mereda. Cahaya lilin di atas meja membuat bayangan mereka memanjang lalu mengecil kembali.
"Di mana Serti?" tanya Dali, suaranya sedikit ragu. "Aku belum melihatnya, dia Sehat kan."
Jon terdiam sejenak, menatap cairan merah dalam gelasnya sebelum menggoyangkannya perlahan. "Kami sudah lama berpisah," jawabnya singkat. Nada suaranya datar, tapi jelas ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Hening sejenak. Suara jangkrik di luar jendela terasa lebih jelas daripada napas mereka.
Dali dan Reiga saling bertukar pandang, membaca suasana yang tiba-tiba berubah.
Jon menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. "Sudahlah, tak perlu membahas itu," katanya, berusaha mengalihkan suasana. Ia melangkah menuju dapur.
"Kalian lapar? Aku punya daging sapi terbaik di sini," lanjutnya, membuka lemari kayu yang tergantung di dinding.