PASUKALJA

Ridki rahman
Chapter #8

8. Kerajaan Darma

Angin berembus pelan, membawa kesejukan di tengah terik matahari yang membakar. Langit cerah membentang luas tanpa awan, membuat bayangan pohon di pinggir jalan tampak lebih pekat. Suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin sesekali terdengar, bercampur dengan derit roda gerobak yang bergesekan dengan jalanan berbatu.


Di dalam gerobak, Reiga dan Dali duduk berhadapan. Guncangan kecil terasa setiap kali roda menghantam batu besar atau melewati tanah yang tidak rata. Tercium aroma kayu dari dinding gerobak bercampur dengan bau rempah-rempah yang tersimpan dalam karung di sudut ruangan. Bekas dari dagangan Jon yang masih tersisa.


Jon, yang duduk di depan mengendalikan gerobak, sesekali menoleh ke belakang.


"Jika kita berangkat sekarang, mungkin kita akan sampai hampir sore hari," suaranya terdengar jelas di antara derak kayu yang bergerak.


Udara mulai terasa hangat. Beberapa burung beterbangan di atas pepohonan, menandakan siang sudah mendekat.


Dali mendesah pelan sembari menyandarkan punggung ke dinding gerobak. Angin yang menyusup masuk dari celah kain penutup cukup membantu mengurangi panas, meski tak sanggup menghentikan keringat yang sering kali mengalir dari pelipisnya. Berkali-kali ia harus mengelapnya.


"Jon, bagaimana kita akan melewati para penjaga?" tanya Dali. "Mereka pasti akan mengecek ke dalam gerobak ini."


Jon tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.

"Beritahu dia, Reiga."


Tanpa sepatah kata, Reiga bergerak. Ia meraba-raba lantai gerobak, lalu menggeser salah satu papan kayu di bawah kakinya. Dengan suara pelan, papan itu terangkat, memperlihatkan ruang sempit yang tersembunyi di bawahnya. Tempat itu cukup gelap, hanya ada sedikit celah udara di pinggirnya.


Jon melanjutkan, suaranya lebih rendah kali ini.

"Kau dan Reiga akan bersembunyi di sana."


Dali menatap ruang rahasia itu dengan ekspresi tak yakin. Gelap, sempit, dan tampak tidak nyaman. Ia lalu melirik ke arah Reiga. Reiga pun terlihat sama, tidak yakin.


"Kau yakin ruangan ini muat, Jon?" tanya Dali.


"Tenang saja, muat untuk kalian," sahut Jon.


"Baiklah..." suara Dali terdengar ragu, tapi ia tidak punya pilihan lain.


Reiga pun menutup kembali ruangan itu, sementara Dali kembali duduk di kursinya.


Waktu berlalu cepat. Kini matahari berada tepat di atas mereka. Suara langkah kaki kuda terdengar samar di luar, sementara gerobak terus berguncang pelan di jalanan yang kasar itu. Tetapi, Reiga tetap bisa tertidur pulas, sedangkan Dali tak bisa. Ia mulai merasa bosan. Sesekali, ia mengintip keluar, ingin melihat sudah sampai di mana mereka. Namun yang ia lihat hanyalah deretan pepohonan dan jalan panjang yang tak berujung.


Dali mulai mengetuk dinding gerobak dengan ujung jarinya. Menciptakan dentingan lembut yang kemudian ia iringi dengan siulan ringan.


Jon, yang berada di depan sebagai kusir, hanya mendengarkan suara siulan Dali. Ia tahu jika orang itu sudah mulai merasa bosan.


Dali terus bersiul, sampai akhirnya Jon membuka suara.

"Dali,” panggilnya pelan.


"Ya,” sahut Dali. Ia masih bersiul.


"Kau ingin tahu kenapa aku dan Serti berpisah?”


Dali seketika berhenti mengetuk dinding dan menghentikan siulannya.

"Kenapa?”


Jon menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

"Kau tahu, kan,” suaranya terdengar sedih. “Aku sangat mencintainya. Aku selalu membayangkan waktu saat bersamanya. Waktu bahagia yang tak pernah kulupakan.”


Dali hanya diam, mendengarkan dengan saksama dari dalam gerobak.


"Aku masih mengingatnya dengan jelas... hari itu.” Jon kembali menarik napas dalam-dalam.

"Seperti biasa, aku bekerja mengawal seseorang ke desa seberang. Aku bilang kepadanya, aku akan pergi selama empat hari,” ucapnya pelan, namun cukup jelas terdengar oleh Dali.

"Tapi, hari ketiga pekerjaanku sudah selesai, aku langsung pulang. Sampai di rumah aku melihat... dia sedang tidur dengan pria lain.” Jon berhenti cukup lama.

"Aku langsung menarik pedang,” suaranya terdengar serak. “Berniat membunuh pria itu. Tapi Serti menghalangi. Dia melindungi pria itu. Tanpa sadar aku mendorongnya. Dia jatuh, dan kepalanya berdarah. Aku bingung dengan apa yang sedang kulakukan. Aku langsung lari keluar meninggalkan mereka berdua, dan belum sempat aku membunuh pria itu.”


"Aku tak menyangka Serti melakukan itu,” ucap Dali pelan.


"Ya, ya, aku juga,” lanjut Jon, suaranya berat, seakan air mata akan jatuh kapan saja. “Selang beberapa hari aku kembali ke rumah. Aku berniat memberinya kesempatan. Tapi yang kulihat, dia tidak ada di rumah. Dia sudah pergi. Aku tidak tahu dia pergi ke mana... mungkin dia pergi dengan pria itu.”


Suasana seketika hening, hanya suara roda gerobak yang terus berguling di atas jalan kasar. Reiga ternyata sudah bangun. Ia mendengarkan dalam diam, menatap langit-langit gerobak, seolah membayangkan rasa kehilangan yang dirasakan Jon.


"Aku masih mencintainya,” lanjut Jon.


"Aku tidak terlalu mengerti tentang cinta,” kata Dali datar. “Tapi, seseorang yang berkhianat tidak bisa dimaafkan.”


Jon tersenyum pahit. “Ya, aku tahu.”


"Carilah perempuan lain, Jon. Kau memiliki wajah yang... lumayan tampan, walau masih kalah denganku.”


Jon tertawa kecil.


"Aku aka—”


Belum sempat Dali menyelesaikan kalimatnya, Jon memotong.


"Cepat sembunyi!” seru Jon tiba-tiba.


"Ha?” Dali menatap bingung.


Suara langkah kuda terdengar mendekat dari arah depan. Roda gerobak perlahan melambat. Jon menatap ke kejauhan, matanya menyipit.


Reiga dengan sigap menarik papan kayu di bawahnya. Mereka berdua segera masuk ke tempat persembunyian yang telah disiapkan. Sempit, namun cukup untuk menyembunyikan mereka.


Tak lama, terlihat jelas beberapa pasukan kerajaan sedang berpatroli di sekitar mereka. Berjalan perlahan dengan menaiki kuda, mendekat ke arah gerobak mereka.


“Mau ke mana kau, Jon?” tanya salah satu prajurit. Ternyata mereka mengenalinya.


Lihat selengkapnya