Dali dan Reiga melangkah santai di tengah riuhnya jalanan. Orang-orang terlihat masih lalu-lalang meski hujan mulai turun perlahan. Aroma tanah basah bercampur asap pembakaran tercium jelas di udara.
Sepatu mereka sesekali mengeluarkan suara cekat-cekit saat melewati genangan lumpur tipis, dan langkah mereka membekas di tanah becek.
Kereta kuda sesekali melintas cepat di depan mereka, rodanya memercikkan air ke sisi jalan. Cahaya lentera mulai dinyalakan di setiap sisi bangunan, menandakan malam akan segera datang. Dali menarik tudungnya sedikit lebih rendah, berusaha menutupi wajahnya dari tatapan orang-orang.
Mereka terus melangkah, lalu berbelok ke sebuah gang sempit. Kini, di depan mereka tampak sebuah bangunan tua dengan papan nama kayu usang bertuliskan Kedai Ganis. Warna pada dinding kayunya terlihat cokelat tua yang telah memudar. Pintunya berderit pelan setiap kali tertiup angin, mengisyaratkan betapa lamanya tempat itu berdiri.
Dali dan Reiga saling bertukar pandang sejenak, memastikan mereka datang ke tempat yang benar.
Dali mengulurkan tangan, mendorong pintu kayu berat itu perlahan. Suara engsel berdecit memecah suasana hening di dalam kedai.
Di balik pintu, aroma alkohol bercampur asap tembakau menyambut mereka. Terlihat hanya ada segelintir orang di dalam. Beberapa duduk di sudut ruangan dengan mata siaga, sementara yang lain menatap gelas di hadapan mereka seolah mencari jawaban di dasar minuman. Reiga mengernyit, tempat seperti ini selalu membuatnya waspada.
Tanpa ragu, Dali berjalan mendekat ke meja pelayan. Reiga tetap berdiri, sorot matanya mengamati tiap sudut ruangan, memperhatikan siapa saja yang ada di dalam.
Melihat Dali mendekat. Seorang perempuan di balik meja, dengan wajah datar dan sorot mata tajam, mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya, suaranya pelan namun tegas.
Dali menatapnya lurus. “Aku butuh informasi.”
Tak ada reaksi berlebihan dari si pelayan, hanya anggukan kecil sebelum ia berbalik, menghilang ke belakang tanpa sepatah kata pun.
Hujan mulai turun deras di luar sana dan tak butuh waktu lama. Seorang pria bertubuh tinggi kekar muncul, pedang tergantung di pinggangnya. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.
“Ikuti aku,” suaranya dalam, tanpa basa-basi.
Dali dan Reiga saling bertukar pandang, lalu tanpa ragu, mereka mengikuti pria itu melewati lorong sempit di belakang kedai. Bau kayu tua yang lembap menyebar di udara.
Di ujung lorong, pria itu berhenti di depan sebuah pintu kayu berat, menempelkan telapak tangannya, lalu mendorongnya perlahan. Derit engsel tua terdengar sebelum pemandangan di balik pintu terbuka. Dali sempat menatap Reiga, rasa ragu tergambar jelas di wajahnya. Ia mengedipkan satu matanya, menandakan agar bersiap—mungkin saja ini jebakan.
Di balik pintu itu, sebuah tangga batu menurun ke bawah tanah. Cahaya remang-remang dari lampu minyak menyinari dinding batu yang kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu mulai menuruni tangga. Dali dan Reiga mengikutinya dengan langkah sigap, suara sepatu mereka menggema di sepanjang lorong yang sempit.
Di dasar tangga, ruangan luas menyambut mereka. Udara dipenuhi aroma tembakau, bercampur dengan bau besi tua dan tanah lembap. Di tengah ruangan, seorang pria duduk di balik meja kayu besar, mengenakan setelan hitam yang rapi. Pipa kayu menyala di tangannya, asap putih mengepul di udara membentuk pola samar sebelum lenyap.
Dali dan Reiga melangkah maju, mendekati meja itu. Mereka menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria yang sudah menunggu, pemilik kedai sekaligus pedagang informasi. Pria yang menuntun mereka kini berdiri di sampingnya.
Meja di hadapan mereka dipenuhi goresan dan bercak minuman, serta sebuah papan kecil bertuliskan “Ganis” terpasang mencolok di sana, hurufnya tercetak putih berkilau seperti perak. Gelas dan botol kosong berserakan di sekitarnya. Beberapa masih menyisakan cairan berbau tajam.
Reiga refleks menutup hidungnya dengan tangan, sementara Dali menatap pria di depan mereka dengan saksama. Dalam benaknya, ia yakin orang di depannya ini penuh tipu muslihat.
Sementara itu, pria di depan mereka terus mengisap pipanya. Asap tebal membaur dengan cahaya redup lilin di atas meja, memperjelas wajah pria pemilik kedai itu—kumis tebal, dengan lingkaran hitam di sekitar mata yang membuat sorotnya tampak berat. Dari atas, terdengar samar obrolan dan langkah kaki para pengunjung kedai.
Ganis menyandarkan tubuh, mengaduk minuman di gelasnya sambil menatap mereka dengan mata penuh perhitungan. Seperti serigala mengamati mangsanya.
Reiga menatap balik tanpa gentar, sementara Dali hanya mengetuk ujung jarinya di meja. Tanda ia mulai kehilangan kesabaran.
Ia mengisap pipanya sekali lagi, lalu menghembuskan asap perlahan sebelum akhirnya membuka suara.
“Jadi,” ujarnya dengan nada serak, “informasi apa yang kalian cari?”
“Putri Arundani,” jawab Dali tanpa basa-basi.