Teng! Teng!
Lonceng kerajaan berbunyi, menandakan waktu sudah tengah malam. Malam terasa begitu dingin dan hening. Udara lembap merayap di antara dinding-dinding batu, membawa aroma kayu basah yang terbakar di dalam tungku.
Di dalam kamar penginapan, berdiri satu lilin yang menyala di atas meja. Cahayanya bergoyang-goyang diterpa angin malam yang menyusup dari celah jendela.
Di bawah cahaya redup itu, peta penjara kerajaan terbentang, penuh coretan dan tanda yang menjadi petunjuk menuju tujuan mereka.
Dali menatap peta itu dengan saksama, seolah tiap goresan tinta menyimpan makna tertentu. Ia lalu mengetukkan jarinya di atas peta, tepat di titik yang menandai lokasi penjara bawah tanah. Wajahnya tampak serius.
“Ada saluran pembuangan air di bawah sini,” katanya pelan, suaranya dalam dan penuh perhitungan. "Sebaiknya kita lewat sini saja."
Reiga menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap peta dengan mata menyipit. “tempat itu mungkin sudah dijaga. Sebaiknya cari jalan lain.”
Hening sejenak. Di luar, angin berdesir melewati atap, membawa suara samar dari jalanan yang senyap.
Di dalam kamar, hanya suara lilin yang sesekali berderak kecil, seolah ikut mendengarkan percakapan mereka.
Dali mengangkat kepalanya. “Salah satu dari kita harus mengalihkan para penjaga.”
Reiga menatapnya kemudian mengangguk.
“Ya, aku yang akan masuk,” katanya tegas. “Aku akan memanjat tembok ini.” Jemarinya menunjuk garis hitam di peta. Di mana dinding penjara menjulang tinggi di atas tebing yang jarang diawasi. “Mereka tidak akan berpikir ada seseorang yang akan menerobos dari sisi ini.”
Mereka berdua saling berpandangan, seolah menimbang rencana yang dikatakan Reiga terdengar masuk akal.
Dali menyeringai tipis. “Ya, kau memang ahli melakukan itu.”
Reiga balas dengan senyum samar. “Dan kau?”
Dali bersedekap, berpikir sejenak. “Aku akan mengalihkan para penjaga.”
Reiga menyipitkan mata. “Caranya?”
Dali terdiam. Matanya menelusuri peta di atas meja, pikirannya berpacu. Ia tahu, sekali saja langkah mereka meleset, tak ada jalan kembali. Garis dan titik hitam di atas kertas itu seolah bergerak dalam pikirannya, membentuk berbagai kemungkinan.
Ia kemudian bangkit. Dengan tenang, ia meraih gelas anggur, meneguknya perlahan, lalu berjalan menuju jendela. Angin dingin menyentuh kulitnya saat ia menatap ke luar. Sekilas, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Di bawah sana, jalanan berbatu terbentang. Sunyi.
Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Cahaya terang yang menari-nari di kejauhan. Bukan cahaya lentera. Bukan cahaya bulan. Ini lebih liar, lebih beringas. Cahaya yang tak pernah membawa kabar baik.
“Api,” gumamnya.
Reiga mengerutkan kening. “Api?”
Beberapa detik kemudian, udara bergetar oleh suara berat yang menggema.
TENG! TENG! TENG!
Lonceng kerajaan berdentang kembali.
Suara tanda peringatan bahaya.
Suara itu memecah keheningan malam, menggema panjang di langit-langit. Dari kejauhan terdengar teriakan, denting logam, dan langkah kaki yang bergerak cepat.
Di jalanan berbatu, bayangan prajurit berlarian. Pedang mereka berkilat di bawah nyala api, bergerak cepat menuju sumber kebakaran. Pos-pos penjagaan ditinggalkan, kekacauan merajalela.
Reiga melangkah mendekat ke jendela. Matanya menyapu pemandangan di luar. Orang-orang berlarian, berteriak panik.
“Tolong! Tolong! Ebugo! Ada Ebugo!”
Seorang pria meneriakkan kata itu berulang kali saat berlari melewati kerumunan. Ketakutan terpancar jelas dari wajahnya.
Reiga menegang. Matanya membelalak, napasnya cepat. Dali hanya diam, menatap dingin ke arah kobaran api.
Tanpa berpikir panjang, Reiga berbalik meraih senjatanya. “Kita harus membantu mereka!” serunya.
“Tidak,” jawab Dali cepat.
Ia meneguk sisa anggurnya, lalu meletakkan gelasnya dengan tenang di atas meja. Matanya tetap lurus ke depan, menatap ke luar jendela dengan ekspresi dingin yang tak tergoyahkan.
“Kekacauan adalah kunci,” lanjutnya.
Reiga menatapnya tajam, rahangnya mengeras. Lalu tanpa sepatah kata, ia berbalik, bersiap keluar.
“Ingat peraturan pertama,” ujar Dali, suaranya pelan namun tegas.
Langkah Reiga terhenti. Hening menegang di antara mereka. Udara serasa berat. Napasnya memburu. Tangannya mengepal, penuh amarah yang tertahan.
BRAK!
Dengan kasar, ia menendang pintu. Suara dentumannya menggema di dalam ruangan.