Pukul empat pagi adalah milik ubin lantai yang dingin.
Sekar menekan telapak kaki telanjangnya ke atas pualam kelabu di lorong menuju dapur, membiarkan rasa ngilu menjalar lambat hingga ke lututnya. Di rumah ini, hawa dingin tidak pernah benar-benar pergi; ia mengendap di sudut-sudut langit-langit yang tinggi, bersembunyi di balik gorden beledu yang berat, dan merayap keluar begitu lampu-lampu dipadamkan.
Rumah ini besar—terlalu besar untuk tiga orang kepala. Sebuah bangunan peninggalan kolonial yang dibeli oleh kakek Arya, lalu diwariskan turun-temurun bersama seluruh aturan tak tertulis yang melekat pada dinding-dindingnya. Bagi orang luar, rumah ini adalah simbol kemapanan. Bagi Sekar, rumah ini adalah sebuah jam pasir raksasa, dan dia adalah pasir yang perlahan amblas ke dasarnya.
Di dapur, kesunyian adalah sebilah pisau yang tajam.
Sekar menyalakan kompor gas. Bunyi klik pemantik api terdengar seperti letupan senapan di keheningan subuh. Dia mengisi teko tembaga dengan air, menaruhnya di atas api, lalu mulai memotong sayuran. Gerakan tangannya begitu mekanis, terlatih oleh ratusan pagi yang serupa. Pisau beradu dengan talenan kayu dalam ritme yang konstan. Tuk. Tuk. Tuk. Seperti detak jantung sebuah mesin yang tidak boleh berhenti.
Di ruang tengah, potret minyak Ibu Mertua menatapnya dari balik bingkai kayu jati yang dipoles pernis gelap. Mata dalam lukisan itu seolah mengikuti ke mana pun Sekar bergerak. Wanita dalam lukisan itu meninggal lima tahun lalu, namun kehadirannya justru menguat setelah kematiannya. Dia adalah standar yang ditinggalkannya untuk Sekar: seorang wanita yang menghabiskan hidupnya dengan mencuci kaki suaminya, menjaga keliman baju tetap lurus, dan mati tanpa pernah sekalipun meninggikan suara.
“Istri adalah jangkar rumah, Sekar,” suara Arya seolah berbisik dari kegelapan koridor, menyusup di antara desis air teko yang mulai mendidih. “Kalau jangkarnya rapuh, rumahnya akan karam.”
Sekar memejamkan mata sesaat, menghirup uap air yang mulai memenuhi dapur. Tangannya yang memegang pisau sedikit gemetar. Ada rasa pegal yang pekat di punggung bawahnya—sisa dari pekerjaan menyetrika tadi malam yang baru selesai pukul satu dini hari. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi kabut kelabu yang tipis.