Patriarki

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #2

Bayang-Bayang di Dinding

Pukul tujuh pagi, rumah itu berganti rupa menjadi altar yang bising, namun tetap saja dingin.

Aroma minyak goreng bekas dan tumisan kangkung berbaur dengan sisa bau sabun cukur Arya yang masih tertinggal di udara. Sekar bergerak di antara meja makan dan tempat cucian piring, tangannya cekatan membungkus bekal sekolah Yudha. Putranya yang berusia lima tahun itu duduk di kursi kayu tinggi, kaki-kaki kecilnya berayun gantung, mengetuk-ngetuk kaki meja dengan ritme yang tidak beraturan.

Tok. Tok. Tok.

“Yudha, makannya jangan sambil mainan kaki,” tegur Sekar lembut, tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk merapikan lipatan roti.

“Biarin saja, Sekar. Laki-laki itu harus aktif.”

Suara Arya terdengar dari arah ruang tengah. Dia berjalan masuk sambil membetulkan letak dasi sutranya di depan cermin besar. Tatapannya beralih ke Yudha, dan seketika itu juga, senyum hangat yang tidak pernah Sekar dapatkan terpancar dari wajah suaminya. Sebuah kehangatan yang bersyarat.

Arya mendekati meja makan, mengacak rambut Yudha dengan sayang. “Anak Papa harus kuat, kan? Tidak boleh diam seperti anak perempuan.”

Yudha mengangguk antusias, mulutnya masih penuh dengan nasi goreng. “Yudha mau jadi kayak Papa! Kuat!”

Sekar merasakan sekelumit rasa perih yang familier menusuk dadanya. Dia meletakkan kotak bekal itu di atas meja dengan sedikit terlalu keras. Klek. Arya melirik sekilas ke arah kotak plastik tersebut, senyumnya menyusut sekerat, digantikan oleh garis bibir yang lurus dan menghakimi.

Lihat selengkapnya