Rumah keluarga besar Arya terletak di kawasan menteng yang sepuh. Sebuah paviliun kolonial berukuran raksasa dengan pilar-pilar beton setinggi pohon kelapa, dilapisi cat putih yang mulai mengelupas di beberapa sudut—menampilkan guratan semen abu-abu di bawahnya seperti luka lama yang menolak sembuh.
Di sinilah, setiap bulan, seluruh silsilah keluarga utama berkumpul. Dan di sinilah, Sekar selalu merasa tubuhnya menyusut menjadi sekerat daging yang siap diuji di atas meja jagal.
Udara di dalam ruang tengah berbau minyak telon, parfum melati yang pekat, dan aroma cerutu kapulaga milik para sesepuh. Suara tawa para lelaki berdentum di sudut kiri, dekat meja biliar, sementara di sudut kanan, para perempuan duduk melingkar di sofa beludru merah darah, menghadapi cangkir-cangkir teh porselen yang mengepulkan uap tipis.
Sekar duduk di tepian sofa, tangannya memangku tas kecilnya erat-erat. Jari-jarinya kaku. Hawa dingin di rumah ini berbeda dengan rumahnya sendiri; di sini, dingin itu datang dari tatapan mata belasan wanita sepuh yang mengenakan kebaya sutra ketat dan konde yang dipasang begitu tinggi, seolah-olah sanggup menusuk langit-langit.
"Sekar, wajahmu agak kusam. Kurang tidur?"
Suara itu datang dari Tante Widya, adik bungsu mendiang ibu mertuanya. Wanita itu menyesap tehnya tanpa menimbulkan bunyi, sepasang matanya yang dilapisi celak hitam menatap lurus ke arah kerutan tipis di bawah mata Sekar.
"Agak kurang tidur, Tante. Semalam menyetrika baju kerja Mas Arya sampai larut," jawab Sekar, berusaha menjaga suaranya tetap datar. Jiwanya menolak untuk terlihat rapuh di tempat ini.
Tante Widya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. Dia meletakkan cangkir porselen ke tatakan dengan ketukan lirih. Ting.
"Menyetrika itu bagian dari seni melayani, Sekar. Dulu, mendiang Mbakyu—Ibunya Arya—bahkan selalu menyetrika sendiri celana dalam suaminya dengan setrika arang agar hangatnya pas. Tidak pernah mengeluh," sahut Tante Widya, nadanya terlampau halus, namun mengandung racun perbandingan yang pekat. "Perempuan zaman sekarang baru tidur malam sedikit saja sudah kelihatan layu. Ingat, Nak, aura suami di luar rumah itu tergantung bagaimana caramu mengurusnya di dalam rumah."