Gudang di belakang rumah tidak tersentuh hawa AC, pengap oleh aroma rayap dan kertas tua. Arya menyuruh Sekar merapikan tempat itu karena tumpukan kardus mulai menyengat penciumannya saat lewat.
Sekar menarik sebuah kotak plastik kelabu dari kolong rak besi. Di dalamnya, di antara tumpukan kain taplak meja yang mulai menguning, ada sebuah buku bersampul kulit buatan yang permukaannya sudah mengelupas.
Itu buku harian mendiang Ibu Mertuanya.
Sekar duduk di atas lantai semen yang berdebu. Kulit buku itu terasa kasar di jemarinya. Ketika dia membuka halaman pertama, aroma kertas usang langsung menyergap indra penciumannya. Tulisan tangan di dalamnya rapi, miring ke kanan, ditulis dengan tinta pulpen hitam yang mulai memudar menjadi abu-abu.
14 Agustus 1989.Hari ini mas wisnu bilang rasa sayur lodehku agak hambar. Aku menangis di kamar mandi setelah dia berangkat kerja. Aku merasa gagal menjadi istri.
Sekar tertegun. Kalimat-kalimat itu terasa begitu akrab. Dia membalik halaman berikutnya, melompati beberapa tahun.
22 November 1994.Arya kecil mulai masuk sekolah. Wisnu melarangku mengantar Arya sampai depan kelas. Katanya, aku akan membuat Arya menjadi anak manja yang penakut. Aku hanya bisa mengintip dari balik pagar. Dadaku sesak, tapi aku harus patuh.