Patriarki

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #5

Pintu yang Terkunci

Pukul dua dini hari. Rumah kembali ke bentuk aslinya: sebuah peti mati yang luas.

Di dalam kamar kerja kecil yang merangkap gudang pakaian, Sekar duduk menghadap layar laptop tua yang meredup. Cahaya latarnya yang kebiruan memantul di permukaan ubin kelabu, menciptakan bayangan tubuhnya yang panjang dan ringkih di dinding, tampak seperti bercak hitam yang menempel pasrah.

Dia baru saja menyelesaikan halaman ketujuh dari dokumen manual mesin pabrik tekstil yang dia terjemahkan. Setiap ketukan jari di atas papan ketik harus ditekan dengan bantalan jemari yang lembut—perlahan, tanpa suara, agar tidak menimbulkan bunyi klik yang bisa merambat melalui lorong sunyi menuju kamar utama tempat Arya tertidur.

Sekar melirik dompet kain kecil di samping laptopnya. Di dalamnya ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan hasil dari proyek terjemahan bulan lalu yang dikirim melalui rekening bank digital baru atas nama gadisnya dulu—nama yang hampir dia lupakan karena semua orang kini memanggilnya 'Ibu Arya'.

Uang itu tidak seberapa dibanding uang belanja yang setiap awal bulan diletakkan Arya di atas meja makan dengan amplop putih bersih. Namun, setiap lembar di dalam dompet kain ini tidak menuntut laporan pertanggungjawaban. Uang ini tidak memiliki syarat kepatuhan.

Tiba-tiba, pegangan pintu kamar mandi di luar lorong bergerak dan berbunyi seret.

Sret.

Lihat selengkapnya