"Kamu teh lebay banget, Maya. Ini cuma debu kardus, bukan asma," gumam Dimas sambil menarik selimut wolnya lebih tinggi ke atas bahu.
"Aku gak bisa napas, Dimas! Dada aku rasanya kayak dihimpit beton," bisik Maya, mencoba menghirup oksigen dingin yang terasa sangat tipis di lantai paviliun.
"Ya tidur di kasur atuh, jangan di lantai dingin begitu. Kayak anak kecil saja," sahut Dimas tanpa berniat membuka matanya sedikit pun.
Maya menatap tumpukan tiga puluh kotak karton cokelat yang mengepung kasur lipat mereka malam ini. Debu semen sisa renovasi paviliun Ciumbuleuit ini masih terasa pekat di lidah. Kepalanya berdenyut hebat, sementara detak jantungnya memburu dalam ritme yang tidak beraturan. Ini bukan sekadar lelah fisik, melainkan penolakan instan dari tubuhnya terhadap lingkungan baru ini.
"Gimana aku bisa tidur kalau jendela paviliun ini langsung menghadap ke dapur utama Mamah?" tanya Maya dengan suara gemetar menahan kesal.
"Ya tinggal tutup gordennya, Maya. Gampang, kan?" sahut Dimas dengan nada malas yang semakin memicu kemarahan istrinya.
"Gordennya transparan, Dimas! Dari tadi sore aku merasa ada sepasang mata yang terus mengintip dari balik kaca dapur utama!" seru Maya frustrasi.
"Mamah gak akan mengintip kita tengah malam begini atuh. Kamu mah terlalu curigaan sama orang tua sendiri," gerutu Dimas, berbalik memunggungi Maya.
Rasa dongkol bercampur sedih mendesak di dada Maya hingga membuat tenggorokannya terasa tersumbat. Keputusan pindah ke paviliun ini diambil demi menghemat biaya sewa apartemen agar tabungan KPR rumah mandiri cepat terkumpul. Namun, baru beberapa jam menetap di sini, ilusi tentang hidup hemat yang tenang langsung hancur berkeping-keping.
"Sini tidur, dingin tahu," gumam Dimas, tiba-tiba menarik paksa tangan Maya hingga tubuh istrinya itu jatuh ke atas kasur lipat mereka.
"Lepasin dulu, Dim. Dada aku masih sesak banget ini," keluh Maya berusaha memberontak dari dekapan suaminya.
"Udah, merem saja. Peluk aku biar hangat," potong Dimas, langsung mengalungkan lengan besarnya ke leher Maya dan menindihkan kakinya yang luar biasa berat.
"Dimas, kaki kamu berat sekali! Ini mah namanya percobaan pembunuhan terselubung!" pekik Maya tersengal-sengal di balik ketiak suaminya yang beraroma minyak telon.
"Hush, berisik. Nanti Mamah dengar dari rumah seberang," bisik Dimas sembari mulai mendengkur halus tanpa rasa bersalah.