Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #2

Kurator Barang Pribadi

"Mamah teh keterlaluan atuh, jam tiga pagi ketok-ketok kaca cuma nyari sejadah beludru," gerutu Maya sembari merapikan rambutnya yang kusut di depan cermin wastafel paviliun.

"Ya namanya juga orang tua pelupa, Maya. Masa gitu saja dipermasalahkan," sahut Dimas, menyisir rambutnya yang masih acak-acakan dengan jari tangan kanan.

"Bukan masalah pelupanya, Dim, tapi dia megang kunci cadangan kita! Aku merasa gak punya ruang pribadi sama sekali di sini," balas Maya, suaranya parau akibat kurang tidur.

"Udahlah, jangan dibesar-besarkan pagi-pagi gini. Mending kita keluar, sarapan," ajak Dimas sembari menguap lebar, melangkah mendahului Maya menuju ruang tengah paviliun.

Langkah kaki Maya mendadak terhenti di ambang pintu kamar tidur mereka yang berhadapan langsung dengan ruang tengah. Matanya membelalak lebar melihat sesosok wanita paruh baya berkerudung instan biru laut sedang berlutut di lantai keramik. Di hadapan wanita itu, sebuah kotak karton besar bertuliskan Pakaian Dalam Pribadi Maya sudah terbuka lebar.

"Aduh, Maya, kain tipis jaring-jaring begini teh buat apa disimpan? Gak hangat sama sekali dipakai di Bandung mah," celetuk Ibu Sarah tanpa menoleh, tangannya sibuk mengangkat sehelai celana dalam renda merah muda milik Maya.

"Mamah! Kenapa bongkar-bongkar barang pribadi saya tanpa izin?" pekik Maya, langsung menghambur mendekati kotak karton tersebut dengan wajah memerah menahan malu.

"Mamah teh cuma mau membantu mencucikan, Maya. Biar kalian cepat rapi dan gak repot," sahut Ibu Sarah tenang, melipat pakaian dalam itu dengan gerakan tangan yang sangat lambat seolah sengaja memamerkannya.

"Tapi ini barang pribadi, Mah. Saya bisa mengaturnya sendiri tanpa perlu bantuan siapa pun," tegas Maya, jemarinya bergetar saat menyambar helai renda tersebut dari genggaman mertuanya.

Keheningan yang dingin seketika mengendap di antara tumpukan kardus cokelat di ruangan itu. Ibu Sarah perlahan mendongak, menatap Maya dengan senyum tipis yang tampak begitu tulus namun terasa menusuk kulit. Dimas berdiri kaku di sudut ruangan, memegangi cangkir kopinya yang masih kosong dengan pandangan canggung yang sangat mengganggu Maya.

"Mamah cuma kepikiran keuangan kalian, Maya. Kasihan Dimas kalau uangnya habis buat beli pakaian kurang bahan begini," ucap Ibu Sarah, nadanya terdengar sangat prihatin.

"Saya beli semua ini pakai uang gaji saya sendiri sebelum menikah, Mah," balas Maya, menekan setiap kata agar tidak meledak di tempat.

"Sama saja atuh, setelah menikah mah uang istri juga harus dihemat demi membantu suami melunasi cicilan KPR," sahut Ibu Sarah lembut, jemarinya kembali menyelam ke dalam tumpukan pakaian di dalam kardus.

Lihat selengkapnya