"Aku tahu kamu masih marah soal gaun itu, tapi masa aku dicuekin sampai dua puluh empat jam begini?" keluh Dimas sembari menarik kaus kaki abu-abunya dengan kasar di tepi tempat tidur.
Maya menolak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya terus mengancingkan manset kemeja kerjanya dengan gerakan jemari yang kaku dan dingin.
"Jawab atuh, Maya. Jangan kayak anak kecil yang hobi mogok bicara begini," desak Dimas, mencoba meraih pergelangan tangan istrinya yang langsung ditepis dengan cepat.
"Aku mau sarapan," ketus Maya singkat, akhirnya bersuara setelah seharian penuh mengunci rapat bibirnya sejak tragedi pembuangan gaun peninggalan ibunya kemarin.
Maya memutar tubuhnya, melangkah cepat keluar dari area kamar tidur menuju ruang tengah paviliun untuk menghindari tatapan frustrasi dari suaminya. Namun, begitu kakinya menginjak area meja makan kayu yang sempit, seluruh persendiannya mendadak terasa membeku seketika. Di atas permukaan meja yang biasanya kosong, buku harian keuangan bersampul kulit hitam miliknya tergeletak dalam keadaan terbuka lebar.
"Aduh, Maya, Mamah teh pusing sendiri melihat angka-angka di buku kecil kamu ini," celetuk Ibu Sarah yang tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan secangkir jamu jahe hangat di tangannya.
"Kenapa buku catatan pribadi saya bisa ada di meja ini, Mah?" tanya Maya, suaranya bergetar menahan amarah yang kembali merambat ke ubun-ubunnya.
"Kemarin kan Mamah membantu merapikan kardus buku kamu, lalu buku ini jatuh sendiri dan terbuka. Mamah mah cuma tidak sengaja membaca," sahut Ibu Sarah tanpa rasa bersalah, lalu duduk dengan tenang di kursi makan.
"Membaca tidak sengaja itu tidak sampai menganalisis detail angka di setiap lembarnya, Mah," balas Maya, melangkah maju untuk menyambar buku tersebut dengan cepat.
Ibu Sarah menahan ujung buku tersebut menggunakan ujung jari telunjuknya, menatap Maya dengan pandangan mata yang menyipit sarat akan penilaian dingin. Di sela-sela keheningan yang mencekam itu, aroma jahe yang tajam beradu dengan bau debu kertas dari buku catatan milik Maya. Detak jam dinding di sudut paviliun terdengar berdentang lambat, seolah sengaja memperpanjang siksaan mental yang sedang dirasakan Maya.
"Mamah heran, buat apa kamu rutin mengirim uang lima ratus ribu tiap bulan ke kampung? Kan Ibu kandungmu sudah mendapat obat gratis dari BPJS atuh," tanya Ibu Sarah ketat.
"Itu untuk membeli vitamin tambahan dan susu khusus lansia yang tidak ditanggung oleh asuransi pemerintah, Mah," jawab Maya, mencoba menjaga suaranya tetap datar meski dadanya bergemuruh hebat.