"Kamu teh jangan mendiamkan aku terus begini, Maya. Gaji kamu juga aman, cuma aku pegang biar kita gak boros," gumam Dimas sambil berbaring telentang, menggaruk betis kirinya yang gatal akibat gigitan nyamuk.
"Kembalikan kartu gajiku sekarang, Dimas," desis Maya, masih duduk kaku menatap cermin rias yang retak menjalar akibat benturan lemari saat kepindahan tempo hari.
"Gak bisa atuh. Ini demi kebaikan tabungan rumah kita juga. Udah ah, mending tidur, besok kamu kesiangan kerja," sahut Dimas ketat, membalikkan badannya memunggungi Maya dengan kasar.
Maya menatap pantulan dirinya di cermin yang terbelah dua oleh garis retakan kaca. Sunyi malam Ciumbuleuit mendesak masuk melalui celah lubang ventilasi di atas jendela, membawa hawa dingin pegunungan yang menusuk hingga ke tulang belikatnya.
Detak jam dinding plastik murah di atas meja terdengar sangat nyaring di telinganya. Kamar tidur paviliun ini terasa sangat asing sekarang.
"Aku gak butuh rumah baru kalau caranya harus menindas ibuku sendiri," gumam Maya dengan suara serak, hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.
"Hush, jangan mulai lagi atuh. Aku capek debat terus," sahut Dimas dari balik selimut tebalnya yang beraroma minyak kayu putih hangat.
Dimas menepuk bantalnya dengan keras berkali-kali untuk mencari posisi kepala yang nyaman, lalu mendengkur pelan beberapa detik kemudian. Gestur acuh tak acuh suaminya itu menyisakan lubang kosong yang menganga lebar di dalam dada Maya.
Dia merasa sangat sendirian di ruangan yang pengap oleh debu semen sisa renovasi ini.
Maya meraba lehernya sendiri, merasakan denyut nadinya yang berdetak lambat di bawah kulitnya yang dingin akibat terpaan angin malam. Jari-jarinya menyentuh kalung perak tipis dengan liontin bulat kecil, pemberian Dimas saat melamarnya di bawah pohon pinus dekat gerbang Ciumbuleuit setahun lalu.
Saat itu, Dimas mengenakan jaket jipang usang yang sakunya sedikit robek di ujung jahitan.
"Aku akan selalu menjaga kamu, Maya," bisik suara Dimas di dalam ingatan masa lalu Maya, terasa hangat di tengah gerimis Bandung Utara kala itu.
Maya tersenyum getir, menyadari betapa murahnya harga sebuah janji manis seorang laki-laki yang belum pernah diuji oleh kerasnya ego ibunya sendiri. Dia merasa sangat bodoh karena sempat mempercayai bahwa pernikahan ini adalah pelindung dari kejamnya dunia luar.