Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #5

Jam Makan yang Terjajah

"Maya, bangun atuh! Itu piring Mamah sudah berisik dari seberang, ketukan sendoknya kedengaran sampai sini," seru Dimas sembari mengguncang bahu Maya kasar, wajahnya tampak kusut dan bantal menempel di pipinya.


"Aku gak mau sarapan di rumah utama, Dimas," sahut Maya, suaranya parau dan jemarinya meremas ujung selimut dengan kencang akibat rasa cemas yang mendera sejak membaca kertas semalam.


"Jangan mulai lagi atuh, cuma sarapan doang masa bikin ribut! Cepat ganti baju, aku tunggu di luar," bentak Dimas kesal, langsung menyambar handuk abu-abunya dari gantungan pintu kayu tanpa memedulikan napas Maya yang memburu tidak teratur.


Maya terduduk diam di tepi kasur lipat dengan rambut yang diikat asal-asalan dalam sanggul yang berantakan. Dadanya terasa sangat sesak ketika membayangkan harus berhadapan kembali dengan teko keramik hijau milik Ibu Sarah. Langkah kakinya terasa sangat berat saat terpaksa menyusul suaminya melintasi halaman paviliun yang basah oleh embun dingin pagi Ciumbuleuit.


"Lama banget sih dandanannya, Maya. Keburu dingin ini nasi gorengnya," keluh Dimas yang sudah duduk manis di kursi meja makan utama, sibuk mengunyah kerupuk aci dengan berisik.


"Pagi, Maya. Sini duduk dekat Mamah, ini teh manis hangatnya sudah Mamah seduh khusus buat kamu," sambut Ibu Sarah, menggeser secangkir teh porselen hijau pekat ke hadapan Maya dengan senyum keibuannya.


Maya menatap cangkir teh manis yang masih mengepulkan uap tipis di depannya dengan pandangan mata yang bergetar ngeri. Peringatan misterius di secarik kertas semalam kembali berputar-putar di dalam kepalanya bagai alarm bahaya yang berisik. Dia merasakan tenggorokannya mendadak mengering, sementara tangannya yang diletakkan di atas paha terus meremas kain rok kerjanya.


"Diminum atuh tehnya, Maya. Biar segar badan kamu sebelum berangkat kerja," desak Ibu Sarah, matanya mengawasi setiap gerak-gerik menantunya dengan lekat.


"Gak usah, Mah. Saya, saya sedang tidak ingin minum manis pagi ini, air putih saja," jawab Maya gagap, suaranya terdengar sangat berantakan dan tidak teratur.


"Aduh, kamu mah repot banget tinggal minum doang pakai nolak segala," sela Dimas, menyeduh kopinya sendiri dengan bunyi seruputan yang sangat keras lalu menyeka sisa air di bibirnya menggunakan punggung tangan.


Lihat selengkapnya