"Kenapa harus ditarik begitu seprainya, Maya? Itu teh sudah Mamah cuci bersih pakai pelembut pakaian paling wangi," sapa Ibu Sarah dari lorong paviliun, berdiri memegangi botol semprotan pelicin baju merah muda di tangan kanannya.
"Keluar dari kamar tidur saya, Mah," desis Maya, suaranya parau akibat kelelahan fisik setelah memaksakan diri bekerja setengah hari dalam kondisi batin yang hancur.
"Ini kan rumah anak laki-laki Mamah, kenapa Mamah dilarang membantu merapikan tempat tidur kalian?" tanya Ibu Sarah tenang, melangkah masuk tanpa melepas alas kaki karetnya yang kotor.
Maya menatap kain kuning terang yang membungkus kasur utamanya dengan napas yang memburu tidak teratur. Kamar tidur yang biasanya beraroma lavender penenang kini dipenuhi oleh bau semprotan pewangi melati buatan yang sangat menyengat hidung. Cahaya matahari sore Bandung Utara menerobos masuk dari jendela, membuat warna kuning seprai itu terlihat begitu mencolok.
Kuning itu rasanya seperti racun.
"Mamah gak punya hak untuk masuk dan merombak isi kamar ini sesuka hati!" jerit Maya, emosinya benar-benar pecah berantakan hingga suaranya serak di tenggorokan.
"Mamah teh cuma mau kamar Dimas rapi, Maya. Istri macam apa yang membiarkan kasur suaminya berantakan begini setelah pindahan?" sahut Ibu Sarah lembut, melangkah mendekat dengan langkah santai.
"Ini ranjang pernikahan kami, Mah! Area pribadi kami berdua!" teriak Maya, langsung merenggut paksa ujung seprai kuning itu dari sudut kasur hingga kainnya bergeser kusut.
Jari telunjuk kanan Maya sempat tersangkut pada jahitan sudut kasur yang tajam, meninggalkan robekan kecil di kuku jarinya yang terasa perih berdarah. Dia mengabaikan rasa perih tersebut, terus menarik gulungan kain kuning itu dengan kedua tangannya yang gemetar hebat akibat kemarahan yang meluap. Dia memeluk gulungan kain tersebut erat-erat seolah sedang mempertahankan sisa martabat dirinya.