Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #7

Air Mata di Sudut Sunyi

"Buka pintunya, Maya! Gak usah pakai dikunci segala atuh!" teriak Dimas dari balik pintu luar kamar mandi paviliun, suaranya teredam oleh derau kencang pancuran air yang langsung diputar penuh oleh Maya.


"Pergi, Dimas! Tinggalkan aku sendiri! Pergi!" balas Maya berteriak dengan tenggorokan yang terasa sangat perih akibat menahan tangis sejak siang tadi di kantor.


"Ya sudah, terserah kamu! Capek aku mah menghadapi drama kamu yang gak ada habisnya ini!" gerutu Dimas kesal, disusul suara langkah kakinya yang menghentak kasar menjauh dari area kamar mandi paviliun.


Maya langsung luruh ke atas lantai keramik abu-abu yang dingin dan basah oleh cipratan air pancuran pegunungan Bandung Utara. Air dingin menyembur deras dari atas kepala, membasahi kemeja kerja sutra hitamnya yang kini menempel ketat di kulit punggungnya yang gemetar hebat. Dia kesulitan menarik napas, seolah pasokan udara di dalam ruangan sempit ini mendadak hilang menguap. Dinding ini terasa menyusut.


"Aku gak bisa napas," bisik Maya tergagap, jemarinya yang dingin meraba-raba dinding porselen basah mencari pegangan namun terus tergelincir jatuh. Rasa sesak yang luar biasa mencengkeram dadanya bagai jepitan besi panas, membuat jantungnya berdegup dalam ritme acak yang sangat menakutkan. Dia memeluk lututnya erat-erat di bawah guyuran air dingin, sementara hidungnya mulai berair dan air matanya bercampur baur dengan air pancuran. Serangan panik pertamanya ini terasa begitu kotor dan sama sekali tidak memiliki keindahan dramatis seperti di film.


"Ibu, Maya gak kuat lagi di sini," lirih Maya, menatap kosong ke lubang pembuangan air karat di sudut lantai kamar mandi. Dia meraih sabun batang belerang yang tergeletak di wadah plastik hijau dekat kakinya, lalu meremasnya dengan segenap tenaga yang tersisa di telapak tangan. Sabun padat itu perlahan melunak menjadi bubur licin berwarna kuning pucat di dalam genggamannya yang gemetar tanpa kendali. Tindakan meremas sabun ini adalah upaya putus asa Maya untuk mencari pijakan realitas agar akal sehatnya tidak hilang.


"Aku gak boleh kalah. Aku gak boleh gila di dapur orang lain," bisik Maya, mencoba menstabilkan embusan napasnya yang masih pendek dan patah-patah. Kesadaran dingin perlahan merayap di sela-sela kepanikannya yang berantakan malam ini. Dia menyadari bahwa mengalah dan bersikap sopan hanya akan membuat Ibu Sarah merambah lebih jauh ke dalam area paling intim dalam hidupnya. Tubuhnya sendiri sudah menuntut sebuah perlawanan nyata jika dia masih ingin mempertahankan sisa-sisa kewarasannya di bawah atap Ciumbuleuit yang mencekam ini.


"Gak akan aku biarkan ranjangku diinjak-injak lagi," tegas Maya pada dirinya sendiri sembari mematikan keran pancuran air dengan sentakan kasar. Keheningan yang pekat langsung menyelimuti ruangan sempit itu, hanya menyisakan bunyi tetesan air dari ujung pipa logam yang jatuh menghantam permukaan ember plastik dengan ritme konstan yang lambat. Maya menyeka wajahnya dengan telapak tangan secara asal-asalan, mengabaikan sisa maskaranya yang luntur hitam di sekitar kelopak mata. Dia bersiap membuka pintu kamar mandi dengan tekad baru yang membatu.

Lihat selengkapnya