Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #8

Siasat Kotak Gembok

"Maya, buka kotak ini sekarang! Pak RT sudah nunggu dari tadi di luar!" teriak Dimas dari ambang pintu depan paviliun, suaranya meninggi penuh emosi kesal yang ditahan.


"Untuk apa membawa Pak RT masuk ke ruang pribadi saya, Mah? Memangnya saya ini kriminal?" sahut Maya, suaranya parau dan bergetar menggigil sembari merapatkan kardigan rajut birunya yang setengah basah akibat rembesan kemejanya.


"Mamah cuma curiga, Maya. Gak biasanya kamu gembok kotak-kotak besar begini sejak pindahan. Takutnya disimpan barang berbahaya gila," sela Ibu Sarah dramatis dari balik punggung Pak RT Gunawan.


Pak RT Gunawan melangkah masuk ke dalam ruang tamu paviliun yang sempit, membuat jaket kulit hitamnya yang kaku mengeluarkan suara gesekan yang berdecit nyaring. Matanya melirik tumpukan kotak karton cokelat yang tersusun tidak beraturan di sudut ruangan dengan pandangan canggung. Dia berulang kali memutar-mutar gantungan kunci motor bebeknya di jari telunjuk kanan untuk meredakan rasa tidak enaknya. Kardus-kardus ini berbau tanah.


"Aduh, Neng Maya, maaf ya malam-malam Bibi mengganggu. Tapi Bu Sarah lapor ke saya kalau di sini ada, keriuhan yang tidak biasa," ucap Pak RT Gunawan santun khas tetua Ciumbuleuit.


"Tidak ada keriuhan, Pak RT. Ibu Sarah saja yang terus-menerus mencari kesalahan saya sejak hari pertama pindah," balas Maya dingin, menatap lurus ke dalam mata mertuanya yang pura-pura terkejut.


"Tuh kan, Pak RT! Bicaranya saja sudah sekasar itu kepada orang tua! Bagaimana saya gak cemas dia menyimpan benda tajam di dalam kotak-kotak yang digembok itu?" adu Ibu Sarah, menepuk dadanya yang hangat beraroma minyak kayu putih.


"Sudah, Maya! Cepat buka saja gemboknya biar masalah ini selesai! Bikin malu keluarga saja kamu mah!" bentak Dimas, melangkah maju mendekati Maya dengan wajah merah padam menahan rasa bersalah sosial.


Maya menahan napasnya dalam-dalam, merasakan sesak yang menusuk di dadanya perlahan mereda berganti dengan amarah dingin yang kokoh. Dia merogoh saku celananya, menarik keluar seuntai kunci kuningan kecil dengan gerakan tangan yang gemetar hebat akibat sisa kepanikan dan hawa dingin malam Bandung. Kunci kecil itu sempat tergelincir dari jemarinya yang basah, jatuh berdenting pelan di atas ubin keramik.

Lihat selengkapnya