"Aku mohon atuh, Maya. Minta maaf saja ke Mamah biar masalah gembok kemarin selesai," pinta Dimas sembari berlutut pasrah di depan lutut Maya yang masih duduk kaku di atas sofa paviliun yang dingin.
"Minta maaf untuk kesalahan apa, Dimas? Untuk tidak mengizinkan ibumu menggeledah isi koper pribadi saya?" sahut Maya, suaranya terdengar sangat parau, hampir tanpa ekspresi emosi luar yang berarti.
"Bukan soal kopernya, tapi tentang harga diri Mamah yang hancur karena dituduh menyembunyikan barang berbahaya gila di depan Pak RT!" desak Dimas, menggenggam jemari Maya yang terasa kaku bagai es batu.
Maya menatap ubun-ubun suaminya yang tertunduk di hadapannya dengan perasaan mual yang mulai mendesak naik ke hulu kerongkongannya. Bau minyak angin mentol dan aroma tanah basah dari jaket parasut milik Dimas berbaur menyesakkan dadanya yang sudah terlampau lelah menghadapi kepalsuan domestik ini. Dia merasakan sisa cintanya pada pria di depannya ini perlahan membeku menjadi serpihan es yang tajam. Udara malam ini terasa asin.
"Kalau aku minta maaf, apa kamu akan mengembalikan kartu debit gajiku?" tanya Maya dingin, menarik pelan pergelangan tangan kirinya dari cengkeraman Dimas.
"Pasti aku kembalikan, Maya. Yang penting seberang sana tenang dulu, aku pusing mendengar Mamah menangis terus sejak sore," jawab Dimas cepat, langsung berdiri dan membetulkan letak kerah kausnya yang sedikit melintir canggung.
"Baik, ayo kita ke seberang," ucap Maya, bangkit berdiri dengan gerakan tubuh yang kaku akibat sisa ketegangan fisik pertengkaran kemarin. Jemari Maya memutar-mutar cincin kawin emas putih di jari manisnya secara kompulsif hingga permukaan kulitnya terasa sedikit perih memerah. Dia menolak merapikan sisa kemeja kerjanya yang masih sedikit lembap di bagian kerah belakang, memilih membiarkan rasa dingin itu terus mengusili kulitnya sebagai pengingat luka batin malam ini. Langkah kakinya terasa menyeret di atas semen halaman penghubung yang berlumut tipis.