"Masuk, Maya! Di luar teh dingin pisan, nanti kamu sakit lalu Mamah lagi yang dituduh tidak becus merawat menantu," seru Dimas dari ambang pintu geser balkon, merapatkan selimut wol tebalnya ke dada dengan wajah mengantuk.
"Aku gak peduli," jawab Maya datar, matanya tetap menatap lurus ke arah kelap-kelip lampu jalanan Bandung Utara yang tampak berpendar kabur di bawah kepungan kabut tipis pegunungan.
"Sumpah ya, keras kepala banget kamu mah! Urusan tadi sore kan sudah selesai, kamu juga sudah minta maaf dan urusan lantai kotor itu tidak usah dibahas lagi!" gerutu Dimas kesal, berbalik melangkah mundur kembali ke arah kasur lipat mereka.
Maya mengabaikan gerutuan suaminya, memilih membiarkan embusan angin malam Ciumbuleuit yang menusuk tulang belikat merayapi kulit lehernya yang polos. Kamar tidur di belakangnya kini terasa begitu pengap, dipenuhi sisa-sisa aroma pertengkaran dan ego laki-laki yang bersembunyi di balik kata bakti anak. Dia menghirup napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa kosong hampa sejak sore tadi. Kota ini tampak tidak peduli.
"Matikan lampunya, Maya! Silau!" teriak Dimas dari dalam kamar, menarik selimutnya hingga menutupi seluruh kepala untuk menghalangi sisa cahaya lampu taman yang masuk dari balkon.
Maya meraba jemari tangan kirinya, merasakan permukaan logam emas putih cincin kawinnya yang kini terasa longgar melingkar di jari manisnya yang mengurus akibat stres seminggu ini. Dia menarik perlahan cincin tersebut, lalu meletakkannya begitu saja di atas pembatas besi balkon yang dingin dan sedikit berkarat di sela-sela debu semen. Logam mulia itu kini tidak lebih dari sekadar pengikat tak kasatmata yang mencekik kebebasannya.