Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #11

Aroma yang Menjajah

"Wangi banget ini kari ayam Mamah! Maya, bangun atuh, jangan sombong pakai pesen katering luar segala," seru Dimas sembari mengendus-endus udara dengan berisik, matanya berkilat senang menatap rantang termos besar di atas meja pantri paviliun.

"Aku gak akan makan masakan itu, Dimas," sahut Maya, suaranya terdengar sangat dingin tanpa emosi, tangannya sibuk menata tumpukan berkas kerja di atas meja belajarnya.

"Aduh, kamu mah egois pisan, hobi banget membuang-buang makanan orang tua!" gerutu Dimas kesal, langsung menyambar sendok logam dari rak piring dan membuka tutup rantang dengan sentakan kasar.

Aroma kari ayam yang sangat menyengat langsung menyeruak memenuhi seluruh ruangan paviliun yang sempit sejak pukul lima pagi. Bau lemak ayam yang tebal beradu dengan aroma kunyit pekat yang terlalu tajam merayap masuk ke setiap sudut kamar, membuat udara dingin Ciumbuleuit terasa sesak. Maya memejamkan matanya sejenak untuk menahan rasa mual yang mendadak menyerang perutnya yang kosong sejak kemarin.

Udara pagi ini terasa berminyak.

"Ini namanya bukan membuang makanan, Dimas, tapi ibumu yang sengaja mengirim porsi raksasa ini agar aku gak punya akses memasak di dapurku sendiri," balas Maya tenang, matanya menatap tajam ke arah rantang logam yang diletakkan tepat di atas kompor induksi satu tungku miliknya.

"Mamah itu cuma mau kita hemat uang belanja, Maya! Gak usah terlalu sensitif menuduh yang tidak-tidak!" bantah Dimas sembari menyuap sepotong besar daging ayam ke dalam mulutnya dengan rakus hingga bumbunya menciprat ke meja pantri.

"Hemat versi Mamah kamu itu adalah menyingkirkan semua barang milikku," desis Maya, jarinya mengetuk-ngetuk ujung ponselnya secara konstan.

Maya teringat kembali pertemuan rahasianya dengan Bi Asih di kedai kopi belakang taman kemarin sore yang sunyi. Bi Asih sudah memperingatkan dirinya dengan bisikan ketakutan bahwa Ibu Sarah tidak akan pernah membiarkan menantunya mandiri secara domestik. Kejadian pagi ini adalah bukti nyata dari peringatan itu, sebuah invasi kuliner yang sangat taktis untuk melumpuhkan otonomi dapurnya.

"Terserah kamu lah! Aku mau makan masakan Mamah saja, kenyang dan gratis," ucap Dimas acuh tak acuh, menjilat sisa bumbu kuning di ibu jarinya dengan suara kecipak yang menjengkelkan telinga Maya.

Lihat selengkapnya