"Kamu teh kenapa nasinya cuma diaduk-aduk terus, Maya? Gak menghargai masakan Mamah?" cetus Dimas sembari mengunyah daging rendang dengan berisik di ujung meja makan utama.
"Perutku masih kenyang, Dim," sahut Maya pelan, menaruh sendoknya tanpa berniat menyentuh tumpukan nasi putih hangat di piringnya.
"Satu suap juga belum masuk dari tadi sore, dibilang kenyang. Jangan kekanak-kanakan atuh, hargai usahanya Mamah," gerutu Dimas kesal, kembali menyendok kuah santan kental yang kuning berminyak ke piringnya yang sudah penuh gunungan makanan.
Maya menatap piringnya dengan sisa kemarahan dingin yang tertahan pekat di dadanya. Setelah penemuan ulat di dalam wadah sayur organiknya tadi siang, Maya praktis tidak memiliki bahan makanan alternatif untuk dimasak di paviliun. Rasa lapar yang melilit perutnya terpaksa membawa kakinya kembali melangkah ke meja makan rumah utama milik mertuanya ini. Rendang ini terasa seperti pasir di lidahnya.
"Aduh, Maya, jangan dibiasakan membiarkan perut kosong begitu atuh. Pantas saja sampai sekarang rahim kamu belum isi juga," sela Ibu Sarah dengan nada suara lembut yang diatur seolah sangat mengkhawatirkan kesehatan menantunya.
"Saya sehat-sehat saja, Mah. Masalah anak kan ada waktunya sendiri," jawab Maya dingin, menatap lurus ke arah mangkuk rendang berminyak di depan mertuanya.
"Bagaimana mau isi kalau makanannya cuma daun-daun mentah kurang gizi begitu? Mamah dulu mah selalu makan protein hewani biar subur dan bisa langsung memberi cucu laki-laki," timpal Ibu Sarah manis sembari mengelus cincin emasnya yang melingkar di jari tengah.
"Iya benar, kata Mamah ada benarnya, Maya. Kamu terlalu sering diet aneh-aneh, makanya tubuh kamu kurang bertenaga untuk program hamil," tambah Dimas menyetujui pendapat ibunya tanpa memikirkan perasaan istrinya sedikit pun.
Maya merasakan tangannya di bawah meja makan meremas serbet hingga kusut tak berbentuk untuk menahan kepanikan fisiknya yang mulai naik ke tenggorokan. Dia menolak memalingkan wajahnya ke arah Dimas yang sibuk mengunyah dengan suara kecipak keras yang terdengar sangat menjijikkan di telinganya malam ini. Angin dingin Bandung Utara yang berembus masuk lewat celah pintu jati teras belakang terasa membekukan udara di ruang makan.