Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #13

Sekutu di Balik Asap Dapur

"Kamu teh semalam gak sopan banget menantang Mamah ke dokter kandungan!" gerutu Dimas sembari mengikat tali sepatu kulitnya dengan kasar di dekat pintu depan paviliun.

"Aku hanya menawarkan solusi medis yang objektif, Dimas," jawab Maya pelan, menutup ritsleting tas kantornya dengan gerakan tangan yang kaku akibat suhu pagi yang rendah.

"Ya tapi gak usah di depan paman dan tante juga atuh! Malu-maluin nama baik keluarga saja kamu mah," sahut Dimas ketat, langsung menyambar jaket parasut hitamnya lalu melangkah keluar pintu dengan debuman keras.

Maya menarik napas panjang, menatap pintu kayu yang baru saja tertutup rapat di depannya. Dia melangkah perlahan menuju jendela kaca samping, memastikan mobil Dimas sudah bergerak meninggalkan pekarangan rumah utama Ciumbuleuit. Setelah kondisi dipastikan aman, Maya berjalan menuju pintu belakang paviliun yang langsung menghadap ke area jemuran pakaian. Tempat ini terasa dingin.

Maya melangkah keluar ke atas rumput hijau setinggi sepuluh sentimeter yang masih basah oleh embun pagi. Area jemuran belakang paviliun ini dibatasi oleh tembok batako setinggi dua meter yang berlumut di beberapa bagian sudutnya. Kawat besi sepanjang tiga meter membentang di antara tiang jemuran, berkarat di bagian ujung sambungannya.

"Non Maya," bisik Bi Asih yang tiba-tiba muncul dari balik pohon belimbing wuluh sembari membawa ember plastik berisi cucian basah.

"Bi Asih, terima kasih sudah mau menemui saya di sini," sahut Maya pelan, melangkah mendekat dengan posisi tubuh menghalangi pandangan dari arah jendela rumah utama.

"Bibi gak bisa lama-lama, Non. Takut Ibu melihat dari arah dapur utama," ucap Bi Asih ketakutan, matanya menatap liar ke sekeliling pekarangan setiap tiga detik sekali.

"Kemarin di kedai kopi Bibi bilang ada hal penting tentang paviliun ini yang belum sempat Bibi jelaskan," desak Maya, memegang pundak Bi Asih yang terasa dingin menggigil.

Bi Asih memilin-milin ujung celemek batiknya yang basah oleh air sabun cuci untuk meredakan ketegangan fisiknya. Pertemuan singkat di kedai kopi kemarin sore memang belum tuntas karena Bi Asih terlampau panik menghadapi risiko ketahuan. Namun, setelah melihat sendiri ubin teras berlumpur disodorkan ke wajah Maya tadi malam, keberanian Bi Asih akhirnya terkumpul penuh pagi ini.

Lihat selengkapnya