"Kamu ngapain masak di dapur utama, Maya? Kan kemarin Mamah sudah bilang jangan pakai kompor paviliun, tapi bukan berarti kamu bisa berantakin dapur Mamah sesukamu!" gerutu Dimas sembari menatap cemas ke arah panci sup daging yang sedang mendidih di atas kompor gas dua tungku.
"Kompor di paviliun tidak bisa dipakai karena tidak ada gas, Dimas. Aku hanya memasak sup daging kesukaanmu untuk makan siang," sahut Maya tenang, memotong wortel berdiameter tiga sentimeter dengan pisau dapur baja di tangannya.
"Ya tapi nanti Mamah pulang arisan bisa marah kalau melihat meja keramik ini berminyak begini," gerutu Dimas, wajahnya tampak merah karena cemas namun matanya terus melirik ke arah panci yang mengepulkan aroma kaldu sapi hangat.
Maya mengabaikan kecemasan suaminya, tetap fokus memasukkan potongan kentang berukuran kotak dua sentimeter ke dalam air kaldu yang bergolak mendidih. Kompor gas dengan dua tungku kuningan itu menyala, mengeluarkan api biru setinggi tiga sentimeter yang memanaskan dasar panci logam berdiameter dua puluh sentimeter. Udara di dalam dapur utama rumah Ciumbuleuit siang ini terasa sangat lembap dan pengap oleh uap rebusan daging sapi.
Dapur ini terasa sangat panas.
"Aku keluar sebentar mau memanaskan mesin mobil di halaman depan, jangan lama-lama masaknya ya, Maya," ucap Dimas sembari melangkah pergi meninggalkan dapur utama dengan langkah kaki yang diseret pelan.
"Iya, sebentar lagi juga supnya matang," jawab Maya tanpa mengalihkan pandangannya dari permukaan kuah sup yang mulai berbusa lemak tipis di permukaan atasnya.
Maya menyadari dirinya membutuhkan wadah rantang plastik merah miliknya yang masih tertinggal di dalam lemari gantung paviliun untuk membawa sup ini. Dia tidak ingin menyajikan masakannya menggunakan mangkuk porselen milik rumah utama demi menjaga jarak teritorial dapurnya dari Ibu Sarah. Maya mematikan keran air wastafel, lalu berjalan cepat keluar dari dapur utama menuju paviliun melewati koridor penghubung samping yang terbuka.
Perjalanan mengambil rantang plastik merah di paviliun itu hanya memakan waktu sekitar dua menit bagi Maya.
Namun, di dalam jeda waktu dua menit yang sangat singkat itulah, Ibu Sarah ternyata pulang dari acara arisan keluarga lebih awal melewati pintu samping dapur utama. Langkah kaki Ibu Sarah yang memakai sandal karet tanpa suara membuatnya bisa menyelinap masuk ke dalam dapur yang sedang kosong tanpa penjagaan. Matanya langsung tertuju pada panci sup daging milik Maya yang masih diletakkan di atas kompor gas yang apinya menyala kecil.