"Jangan dilawan terus pakai cara keras, Non. Ibu mah makin senang kalau Non Maya gampang terpancing emosi begini," bisik Bi Asih sembari menekan perlahan pundak kaku Maya di lantai dapur paviliun yang dingin malam ini.
"Aku gak bisa tinggal diam terus ketika hasil masakan buatanku dirusak di depanku sendiri, Bi," balas Maya ketat, menatap kosong ke arah ubin dapur yang berdebu semen sisa renovasi.
"Tapi Aden Dimas jadi makin marah ke Non, itu yang Ibu inginkan sejak awal," desis Bi Asih dengan suara gemetar sembari menuangkan minyak kayu putih ke telapak tangan kanannya yang berkerut.
Maya terdiam, membiarkan jemari kasar Bi Asih memijat otot lehernya yang mengeras akibat ketegangan fisik pasca-pertengkaran siang tadi. Ubin keramik abu-abu berukuran tiga puluh kali tiga puluh sentimeter di bawah paha Maya terasa sangat dingin menembus kain kulotnya. Angin malam bertiup kencang di luar, menggerakkan daun-daun pohon belimbing wuluh hingga menimbulkan suara gesekan konstan pada dinding luar paviliun.
Ruangan ini terasa sangat sepi.
"Dimas malam ini memilih tidur di kamar utama rumah depan bersama ibunya," ucap Maya, suaranya terdengar sangat parau di dalam kegelapan dapur yang hanya diterangi satu bohlam kuning lima watt.
"Aden Dimas memang selalu begitu jika Ibu berpura-pura sakit dada, Non. Aden tidak akan pernah berani membantah ucapan ibunya," sahut Bi Asih, menghentikan pijatannya sejenak untuk membetulkan letak jepit rambut plastiknya yang kendur.
"Aku merasa bersalah sudah melibatkan Bibi ke dalam masalah rumit ini. Bibi bisa kehilangan pekerjaan kalau Ibu Sarah tahu tentang botol itu," bisik Maya, menoleh menatap wajah tua Bi Asih.
"Bibi mah sudah tidak punya pilihan lain, Non. Bibi harus tetap bekerja di sini untuk membayar sisa utang almarhum suami Bibi," ungkap Bi Asih lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam menatap lantai dapur.
Bi Asih menceritakan bahwa suaminya meninggal lima tahun lalu akibat penyakit paru-paru basah, meninggalkan utang biaya rumah sakit sebesar sepuluh juta rupiah kepada Ibu Sarah. Karena tidak memiliki anak dan jaminan aset apa pun, Bi Asih terikat perjanjian kerja dengan upah satu juta rupiah per bulan, yang mana separuhnya langsung dipotong setiap bulan oleh Ibu Sarah untuk mencicil utang tersebut. Perjanjian tertulis itu membuat Bi Asih tidak bisa pergi meninggalkan rumah Ciumbuleuit ini secara hukum.