"Ini maksudnya apa, Maya? Kenapa ada kurir katering sehat mengirim boks makanan ke paviliun pagi-pagi begini?" tanya Dimas dengan nada suara keras, menggebrak meja pantri tempat kotak katering plastik hijau diletakkan.
"Itu sarapan dan makan siangku, Dimas. Mulai hari ini, aku tidak akan pernah lagi memakan apa pun dari dapur rumah utama," jawab Maya dengan wajah datar tanpa ekspresi, merapikan letak sendok plastik di atas kotak makanannya.
"Jangan konyol atuh! Tindakan boikot makanan secara terbuka begini mah sama saja dengan deklarasi perang terhadap Mamah!" bentak Dimas, wajahnya tampak merah padam menahan rasa kesal yang meluap.
Maya menatap lurus ke arah kotak makanan plastik hijau berukuran dua puluh kali lima belas sentimeter di hadapannya dengan pandangan mata yang sangat tenang. Di dalam kotak tersebut, terdapat nasi merah, potongan dada ayam rebus seberat seratus gram, serta sayur brokoli kukus yang tampak bersih tanpa sisa minyak goreng sedikit pun. Aroma makanan sehat yang hambar itu berbaur dengan hawa dingin pegunungan Ciumbuleuit yang masuk lewat celah pintu kaca. Paviliun ini terasa sangat dingin.
"Aku melakukan ini untuk melindungi keselamatan fisikku sendiri, Dimas. Aku tidak mau mati konyol karena memakan makanan yang tidak jelas kebersihannya," sahut Maya pelan, menaruh garpu plastiknya dengan gerakan tangan yang sangat teratur.
"Maksud kamu apa, Maya? Menuduh Mamah sengaja meracuni kamu dengan sup daging kemarin? Itu mah murni ketidaksengajaan karena Mamah sedang lelah!" seru Dimas membela ibunya dengan berapi-api.
"Ketidaksengajaan tidak akan menghasilkan sup daging yang memiliki rasa asin ekstrim seperti air laut pekat, Dimas," desis Maya, rahangnya mengatup rapat menahan getaran kemarahan yang kembali merayap di dadanya.
"Pokoknya aku minta kamu batalkan langganan katering sehat ini sekarang juga! Aku gak mau dibilang suami tidak becus memberi makan istri oleh tetangga!" tuntut Dimas, menunjuk-nunjuk boks plastik hijau itu dengan jari telunjuknya yang gemetar.