Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #17

Tuduhan Palsu di Ruang Tengah

"Kamu apakan laci meja kamar Mamah, Maya? Kenapa cincin berlian keluarga bisa hilang setelah kamu bolak-balik ke rumah depan?!" teriak Dimas dengan suara bergetar marah, langsung menuding wajah Maya di ruang tamu paviliun.

"Aku gak pernah menyentuh kotak perhiasan ibumu, Dimas. Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti," sahut Maya tenang, menaruh cangkir teh kosongnya ke atas meja kayu dengan gerakan tangan yang stabil.

"Tapi kemarin siang cuma kamu dan Bi Asih yang berada di area kamar utama rumah depan! Gak usah mengelak atuh, ini masalah harga diri keluarga!" bentak Dimas, wajahnya tampak merah padam menahan kesal.

Sesaat sebelum Dimas mendobrak pintu paviliun, suara teriakan histeris Ibu Sarah dari rumah utama memang sempat memecah keheningan sore hari di kawasan Ciumbuleuit. Jeritan dramatis itu terdengar sangat nyaring hingga membuat beberapa tetangga di sekitar pagar luar menoleh penasaran. Maya ditarik paksa oleh Dimas melintasi halaman semen menuju ruang tengah rumah utama untuk menghadapi penghakiman keluarga.

Ruangan ini terasa sangat sempit.

Di dalam ruang tengah rumah utama, Ibu Sarah sedang menangis tersedu-sedu di atas sofa kayu jati, didampingi oleh Tante Ratna, adik bungsunya yang bertubuh gemuk. Tante Ratna mengenakan lima gelang emas yang mengeluarkan bunyi bergemerincing setiap kali ia menggerakkan tangannya untuk menenangkan Ibu Sarah. Sementara itu, Bi Asih duduk bersimpuh di lantai keramik dingin dengan tubuh gemetar hebat dan air mata membasahi pipinya yang keriput.

"Kamu pasti tahu ke mana hilangnya cincin berlian warisan almarhum mertuaku, Maya!" tuduh Tante Ratna dengan nada suara melengking tinggi, menatap Maya dengan pandangan mata menghakimi.

"Saya tidak tahu-menahu tentang cincin itu, Tante. Kemarin siang saya hanya mengambil rantang merah di dapur utama, tidak masuk ke kamar tidur Ibu," jawab Maya, mencoba mempertahankan suaranya tetap datar.

Lihat selengkapnya