"Cincin itu jelas-jelas ditemukan di dalam tas Maya, dan kamu satu-satunya orang luar yang bebas keluar masuk paviliun! Jangan mengelak lagi!"
"Kamu mau keponakanmu membusuk di penjara, Asih?" tanya Ibu Sarah dengan nada suara yang sangat dingin.
"Saya tidak pernah mencuri cincin berlian itu, Ibu," sahut Mbak Asih sambil berlutut di atas lantai marmer yang dingin.
"Bukti sudah ada di dalam lemari kamar kamu, jangan mengelak lagi!" bentak Ibu Sarah sambil melempar kotak beludru kosong ke depan wajah Mbak Asih.
Kotak beludru hitam itu mendarat tepat di dekat lutut Mbak Asih yang gemetar. Di sekeliling ruangan, seluruh anggota keluarga besar berdiri menonton dengan lipatan tangan di dada dan tatapan yang penuh dengan penghinaan.
"Danendra sudah menemukan emas batangan yang hilang di dalam laci kerja Bagus di toko," ucap Ibu Sarah sambil tersenyum sinis. "Cukup satu telepon dari saya ke saudara saya itu, keponakan kesayangan kamu akan langsung diseret polisi malam ini juga."
Mbak Asih menunduk dalam, bahunya berguncang hebat menahan tangis yang hampir pecah. Dia tahu bahwa Danendra, saudara laki-laki Ibu Sarah yang mengelola toko emas itu, sengaja menaruh emas palsu di laci Bagus untuk menjebaknya agar mengaku.
"Tapi, Ibu, Mbak Asih tidak mungkin melakukan itu," sela Maya sambil melangkah maju, mencoba membela satu-satunya pelayan yang setia kepadanya.
Sebelum Maya menyelesaikan kalimatnya, Mbak Asih secara diam-diam menyembunyikan tangan kanannya di balik punggung. Dia membuat gerakan mencubit yang sangat cepat di udara, sebuah kode darurat yang memberi tahu Maya untuk segera diam dan tidak ikut campur.
"Jangan, Nona Maya," potong Mbak Asih dengan suara yang bergetar. "Ibu Sarah benar. Memang saya yang mengambil cincin berlian tersebut."
Maya mematung di tempatnya berdiri, jantungnya berdegup sangat kencang mendengar pengakuan palsu itu. Dia tahu Mbak Asih sedang mengorbankan dirinya sendiri agar penyelidikan tentang teh racun yang sedang mereka lakukan tidak dicurigai oleh Ibu Sarah.
"Dengar sendiri, kan?" tanya Ibu Sarah sambil menoleh ke arah Maya dengan tatapan meremehkan. "Pelayan kesayangan kamu ini ternyata cuma pencuri busuk yang tidak tahu diri."
"Saya minta maaf, Nyonya," ucap Mbak Asih sambil menyembah di kaki Ibu Sarah. "Saya khilaf karena membutuhkan uang untuk pengobatan keluarga saya."