Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #19

Amarah yang Membatu

"Mbak Asih itu memang maling, Maya! Kamu gak usah pasang muka dingin begitu seolah-olah aku yang salah di sini!" gerutu Dimas sembari membanting pintu kamar tidur paviliun dengan kasar sesaat setelah kepulangan mereka dari rumah depan.

"Keluar dari paviliunku, Dimas," sahut Maya, suaranya sangat datar dan pelan, menatap lurus ke arah jendela kaca tanpa memedulikan kemarahan suaminya.

"Ini paviliun milik ibuku, bukan milikmu! Kamu sudah keterlaluan membela pencuri itu!" bentak Dimas, lalu menyambar beberapa helai pakaian kerjanya dari atas kasur dan melangkah pergi keluar menuju rumah depan dengan langkah kaki menghentak.

Maya segera berjalan perlahan menuju pintu depan paviliun, lalu memutar kunci besi sebanyak dua kali putaran penuh hingga berbunyi klik yang keras dari dalam. Dia menyandarkan punggungnya pada daun pintu kayu yang dingin, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya yang terasa kosong hampa sejak pengusiran Mbak Asih malam ini. Kesunyian paviliun yang sepi kini terasa menekan fisiknya secara nyata tanpa ada lagi sapaan hangat di dapur.

Kamar ini terasa sangat luas.

Satu hari berlalu dalam kesunyian mutlak tanpa ada satu pun pesan atau kedatangan Dimas dari rumah utama depan untuk membujuknya. Maya menghabiskan waktu seharian di dalam paviliun, menolak memakan katering luar yang datang dan hanya meminum air putih kemasan botol yang ia beli sendiri dari minimarket dekat gerbang. Malam kedua tiba, membawa hawa dingin pegunungan Ciumbuleuit yang menembus celah ventilasi udara kamar tidurnya.

Lihat selengkapnya