"Kamu teh keras kepala banget, Maya! Sampai kapan mau mengunci pintu paviliun dan mogok makan seperti ini?!" teriak Dimas dari luar pintu geser teras, bajunya tampak basah kuyup oleh air hujan yang deras mengguyur malam ini.
"Sampai kamu menyadari bahwa ibumu telah merusak seluruh batas privasi pernikahan kita, Dimas," sahut Maya dingin dari balik celah pintu kaca yang sengaja dibukanya sedikit.
"Mamah tidak merusak apa-apa atuh! Beliau hanya peduli pada tabungan masa depan kita!" gerutu Dimas sembari menggigil kedinginan, air hujan menetes deras dari rambut hitamnya yang lepek ke dahi.
Air hujan mengalir sangat deras dari talang seng paviliun, menghantam permukaan tanah berumput di bawahnya dengan suara berisik yang konstan. Suhu udara malam di kawasan Ciumbuleuit ini turun hingga mencapai delapan belas derajat Celsius, membawa kabut tipis pegunungan yang sangat dingin. Kemeja katun tipis milik Dimas telah basah sepenuhnya dan menempel ketat di kulit dada serta lengannya yang bergetar.
Malam ini terasa sangat basah.
"Kembali tidur di paviliun, Maya. Jangan bersikap dingin terus begini, tidak enak dilihat Mamah dari rumah depan," bujuk Dimas, melangkah maju satu langkah ke atas undakan ubin teras yang basah.
"Aku nyaman sendirian di sini, Dimas. Lagipula, kamu sudah memilih tidur di rumah utama sejak dua hari lalu," sahut Maya.
"Aku tidur di sana karena kamu yang mulai boikot makanan dan mogok bicara! Sini, pegang tanganku, dingin sekali ini," pinta Dimas sembari mengulurkan tangan kanannya yang pucat dan basah.