"Anggaran lima miliar rupiah ini terlalu besar untuk wilayah Bandung Utara, Maya. Tolong jelaskan kenapa kami harus menyetujui draf anggaran dari tim kamu," ucap Pak Baskoro dari layar monitor laptop dengan nada suara tegas menuntut penjelasan.
"Anggaran itu sudah disesuaikan dengan kontur tanah Ciumbuleuit yang rawan longsor, Pak. Kami membutuhkan tiang pancang sedalam dua belas meter untuk menopang fondasi beton," jawab Maya tenang, menatap lurus ke arah lensa kamera web laptopnya yang menyala biru.
"Tapi pihak kompetitor kita bisa menawarkan harga tiga puluh persen lebih rendah untuk draf proyek yang sama," sela Pak Baskoro, mengetuk-ngetukkan ujung pena logamnya ke atas meja kerja kayu mahoninya.
"Harga kompetitor tidak mencakup biaya asuransi kegagalan struktur tanah, Pak Baskoro. Jika kita mengabaikan aspek itu, risiko kerugian finansial perusahaan akan jauh lebih besar di masa depan," jelas Maya secara taktis dan dewasa, menyodorkan draf dokumen analisis risiko ke depan kamera.
Pak Baskoro terdiam beberapa detik, mengamati lembar tabel data persentase yang ditampilkan Maya lewat fitur berbagi layar rapat video. Dua direktur lainnya yang ikut dalam panggilan video tersebut tampak mengangguk-angguk kecil, menyetujui penjelasan logis Maya yang berbasis data akurat. Maya menarik napas dalam-dalam secara perlahan melalui hidung untuk menjaga agar suaranya tetap terdengar stabil dan profesional.
Pet!
Lampu meja belajar beling setinggi tiga puluh sentimeter milik Maya mendadak mati, disusul padamnya lampu utama ruangan paviliun secara serentak. Suara putaran kipas pendingin laptop berdiameter delapan sentimeter di hadapannya melambat secara bertahap hingga akhirnya berhenti total. Koneksi indikator jaringan nirkabel di sudut kanan bawah layar laptopnya berubah warna menjadi abu-abu tanda terputus.
Listrik paviliun ini mati total.