Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #22

Duplikat yang Tersembunyi

"Kamu teh jangan fitnah Mamah terus, Maya! Mamah cuma merapikan dahan belimbing, bukan sengaja memutus kabel internet kamu!" gerutu Dimas dari seberang telepon dengan nada suara tinggi penuh kejengkelan.

"Aku memegang bukti fisiknya berupa rekaman video, Dimas. Aku tidak sedang menebak-nebak," sahut Maya dingin sebelum mematikan sambungan telepon sepihak.

Maya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahan hitamnya yang longgar, lalu menarik napas panjang untuk menstabilkan fokus pikirannya. Dia menatap taksi online yang membawa Ibu Sarah pergi menuju klinik fisioterapi di pusat kota baru saja melewati gerbang depan. Kondisi rumah utama kini sepenuhnya kosong tanpa ada satu pun orang di dalam, memberikan celah waktu yang aman bagi Maya untuk menyelidiki kamar tidur mertuanya.

Kamar ini terasa sangat sunyi.

Maya melangkah lambat melintasi ruang tamu rumah utama yang sepi, lalu membuka daun pintu jati kamar tidur utama Ibu Sarah yang tidak terkunci rapat. Kamar tidur berukuran lima kali lima meter itu dipenuhi oleh aroma minyak melati yang sangat menyengat hidung, berpadu dengan bau kapur barus dari sudut lemari. Maya berjalan cepat mendekati meja kerja kayu mahoni berukuran seratus dua puluh kali enam puluh sentimeter di sudut ruangan.

Lihat selengkapnya