"Buka pintunya, Maya! Apa yang kamu lakukan sampai Mamah tergeletak kesakitan begitu di lantai?!" teriak Dimas dari luar teras paviliun dengan wajah pucat panik sembari menggedor bagian pintu kaca yang belum retak.
"Ibumu sendiri yang menghantamkan pot tanah liat itu ke pintu kaca ini, Dimas. Aku tidak menyentuhnya sama sekali," sahut Maya dingin dari balik pintu geser yang masih terkunci rapat dari dalam.
"Bohong! Mamah gak mungkin merusak pintu kaca ini tanpa alasan! Cepat buka sebelum aku mendobraknya!" bentak Dimas, matanya membelalak marah menatap Maya dari balik retakan kaca yang menjalar panjang.
Ibu Sarah tergeletak miring di atas lantai teras yang kotor oleh pecahan pot tanah liat merah dan tanah kebun yang basah. Tangan kirinya mencengkeram kain daster batik sogan miliknya di bagian dada kiri dengan gerakan berulang yang sangat dramatis. Napasnya terdengar pendek-pendek dan tidak teratur, berpura-pura sesak napas akibat syok berat karena dikunci di luar oleh menantunya sendiri.
Keadaan ini tampak sangat mendesak.
Maya menatap lurus ke arah tubuh mertuanya yang tergeletak di sela-sela daun pakis hias yang hancur berserakan di lantai teras. Otak dewasanya segera bekerja melakukan analisis risiko yang matang di tengah desakan histeria suaminya. Dia sadar jika ia tetap membiarkan pintu terkunci, Dimas dan keluarga besarnya memiliki celah hukum untuk menuduhnya melakukan kelalaian sengaja yang membahayakan nyawa orang tua.
"Tenang, Dimas. Aku buka pintunya sekarang untuk memeriksa kondisi medis ibumu, bukan karena aku takut pada gertakanmu," ucap Maya tegas sembari mendekatkan jarinya ke panel baja digital.