"Dokter di klinik bilang Mamah hanya kelelahan biasa, tapi tekanan darahnya naik tinggi karena stres akibat ulahmu siang tadi, Maya," ucap Dimas dengan nada suara rendah yang serak, menutup pintu geser kaca dengan bunyi klik yang kaku.
"Tekanan darah ibumu naik karena fisiknya sendiri yang memilih mengangkat pot tanah liat seberat lima kilogram dan melemparkannya ke pintu kacaku, Dimas," sahut Maya tenang dari tepi ranjang.
"Tapi kalau kamu tidak memasang kunci digital aneh itu di pintu depan, Mamah tidak akan sampai melempar pot bunga karena panik terkurung!" gerutu Dimas kesal, mendudukkan tubuhnya secara kasar di atas kursi rias kayu dekat lemari pakaian.
Maya menatap lurus ke arah suaminya dengan sisa kemarahan dingin yang kini telah mengendap sepenuhnya menjadi kebekuan batin. Jam dinding digital di sudut meja menunjukkan tepat pukul dua belas malam dengan angka berwarna merah redup yang menyala di tengah kegelapan paviliun. Suhu dingin malam pasca-hujan deras merayap masuk dari sela-sela pintu kaca yang retak menjalar panjang di ruang tengah.
Kamar ini terasa sangat asing.
"Kunci digital itu tidak aneh, Dimas. Aku memasangnya secara sadar menggunakan uang pribadiku untuk menghentikan ibumu masuk menyusup sesuka hatinya ke dalam paviliun ini," jelas Maya secara matang dan dewasa, tanpa ada nada histeris sedikit pun dalam suaranya.
"Mamah itu mertua kamu, Maya! Beliau punya hak penuh atas tanah ini, termasuk atas pintu paviliun yang kita tempati!" balas Dimas, menyandarkan punggungnya dengan lelah pada sandaran kursi.
"Hak atas tanah tidak memberikan ibumu hak hukum untuk menggeledah pakaian dalamku atau mencuri catatan keuanganku di dalam laci meja," ucap Maya tegas, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mamah hanya mau membantu merapikan barang-barang kita, Maya! Kenapa pikiran kamu selalu dipenuhi kecurigaan buruk pada ibuku sendiri?" tanya Dimas.