"Tandatangani surat kuasa penggabungan rekening ini sekarang, Maya! Jangan menunda-nunda lagi!" gerutu Dimas sembari mengetuk ubin meja makan kayu pinus paviliun dengan ujung jari telunjuk kanannya secara konstan.
"Aku sudah menandatangani kesepakatan umum kemarin malam, Dimas. Tapi aku tidak akan pernah menandatangani surat kuasa yang memberikan ibumu hak mutlak atas rekening gajiku," sahut Maya tenang, matanya menatap tajam draf dokumen di hadapannya.
"Ini demi kebaikan dan keamanan keluarga kita juga agar terhindar dari tuntutan hukum luar di masa depan!" bentak Dimas kesal sembari mengusap dahinya yang sedikit berkeringat dengan punggung tangan kirinya yang gemetar.
"Kebaikan siapa, Dimas? Kebaikan ibumu atau kebebasan finansial kita?" tanya Maya, menatap lurus ke sepasang mata suaminya tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Jangan mulai memutarbalikkan fakta atuh, Maya! Rekening keluarga yang digabung itu hal yang wajar dalam pernikahan!" seru Dimas, wajahnya tampak merah padam menahan rasa kesal yang meluap.
Maya menatap tiga lembar kertas putih berukuran A4 seberat tujuh puluh gram yang tergeletak di atas ubin meja makan kayu pinus paviliun. Dokumen itu berjudul "Surat Kuasa Penggabungan Rekening Gaji". Goresan tinta hitam di atas kertas itu mendikte pemindahan dana gajinya sebesar tujuh puluh persen ke rekening utama milik Ibu Sarah secara otomatis setiap bulan. Kertas-kertas ini terasa sangat berat.
"Mamah melakukan ini untuk menjamin masa depan finansial kalian, Maya. Uang kalian akan dikelola secara aman dalam satu rekening keluarga utama," sela Ibu Sarah yang tiba-tiba melangkah masuk ke dalam paviliun melalui pintu depan.
"Saya memiliki kemampuan penuh untuk mengelola gaji saya sendiri secara aman tanpa perlu digabungkan ke rekening Ibu," jawab Maya, menatap lurus ke dalam sepasang mata keriput Ibu Sarah yang kini berdiri tepat di dekat meja makan.
"Gaji bulanan kamu itu rawan disalahgunakan untuk keperluan luar yang tidak penting, Maya. Lagipula, Dimas kan suami kamu, dia berhak mengatur aliran dana masuk," timpal Ibu Sarah, menaruh tas belanjaan plastiknya ke atas meja.
"Sistem penggajian saya dikirim langsung dari divisi payroll perusahaan ke rekening pribadi saya, Mah. Pihak bank tidak diperbolehkan melakukan autodebit tanpa persetujuan tertulis yang sah dari saya pribadi," sahut Maya, menyodorkan argumen hukum perbankan yang rasional.
"Mamah hanya mau membantu mengamankan aset kalian agar bisa menabung lebih cepat untuk cicilan rumah KPR kalian nanti!" sahut Ibu Sarah lembut.
"Membantu melunasi cicilan rumah masa depan bukan berarti saya harus menyerahkan seluruh kendali keuangan pribadi saya kepada Ibu," tegas Maya.
"Maya! Jaga bicara kamu ya! Kurang ajar sekali bicaranya di depan Mamah!" sela Dimas dengan nada suara tinggi penuh kejengkelan, tangannya bergerak gelisah membetulkan letak kerah kemeja kerjanya yang melintir canggung.