Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #29

Amplop untuk Ibu Kandung

"Kamu pikir Mamah tidak tahu aliran dana haram dari rekening pribadi kamu ini, Maya? Lihat kertas mutasi ini!" cetus Ibu Sarah dengan nada suara tinggi penuh tuduhan, melambaikan selembar kertas putih cetakan transaksi tepat di depan wajah Maya.

"Dari mana Ibu mendapatkan dokumen mutasi rekening pribadi saya? Ini rahasia perbankan dan tindakan Ibu ini melanggar hukum!" sahut Maya dingin, tangannya mengepal erat di dalam saku kardigan rajut birunya.

"Mamah memiliki keponakan bernama Rian yang bekerja sebagai staf administrasi di bank cabang tempatmu menaruh gaji, Maya. Jadi tidak ada satu pun rahasia keuangan yang bisa kamu sembunyikan dari keluarga ini!" sela Ibu Sarah dengan senyuman kejam di wajah keriputnya.

Maya berdiri kaku di ruang tamu paviliun yang sempit, menatap selembar kertas putih berukuran A4 seberat delapan puluh gram yang terus dilambai-lambaikan Ibu Sarah. Di atas kertas tersebut, terdapat cetakan baris demi baris transaksi Bank Mandiri milik Maya dengan tinta hitam pekat yang sangat jelas. Setiap baris transaksi menunjukkan pengiriman dana rutin sebesar lima ratus ribu rupiah ke rekening ibunya di kampung halaman setiap tanggal dua puluh lima.

Kertas ini terasa sangat dingin.

"Kamu diam-diam mencuri uang belanja pemberian Dimas untuk membiayai keluarga kamu yang miskin di kampung itu, kan, Maya?" tuduh Ibu Sarah, meletakkan kertas cetak transaksi itu secara kasar ke atas meja kayu.

"Uang lima ratus ribu rupiah itu murni hasil keringat saya bekerja di kantor direksi Pak Baskoro, Mah. Tidak sepeser pun menggunakan uang belanja dari Dimas!" tegas Maya, menolak keras tuduhan mencuri tersebut.

"Sama saja atuh, Maya! Setelah kamu menikah dengan Dimas, seluruh uang hasil kerja kamu itu juga menjadi milik suami secara hukum pernikahan!" bentak Dimas yang tiba-tiba melangkah masuk menyusul ibunya dari arah pintu depan.

"Hukum pernikahan kita tidak pernah mengatur tentang penyitaan seluruh hak milik pribadi istri untuk keluarga suami, Dimas. Tolong gunakan akal sehatmu," sahut Maya, menatap suaminya dengan tatapan mata yang sangat dingin dan dewasa.

"Jangan sok pintar mengajari suami tentang hukum pernikahan, Maya! Kenyataannya kamu sudah berbohong dan menyembunyikan transaksi ini di belakangku selama setahun!" bentak Dimas kesal sembari mengibaskan tangannya dengan kasar di depan dada.

"Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun, Dimas. Aku mengirimkan uang itu menggunakan sisa gaji pribadiku yang bersih setelah dipotong kontribusi tabungan bersama kita," jelas Maya secara matang dan logis, merapatkan letak kardigan rajut birunya.

Lihat selengkapnya