Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #30

Tuntutan Penyerahan Total

"Kamu dengar sendiri kata Mamah tadi, Maya! Hentikan semua pengiriman uang konyol itu ke kampung sekarang juga!" bentak Dimas sembari menunjuk luka goresan tipis di pipi kanan Maya yang masih mengeluarkan setetes darah kecil.

"Aku tidak akan mengorbankan nyawa ibuku demi meredakan kecemasan finansial palsu ibumu, Dimas," sahut Maya dingin, menyeka setetes darah di pipinya dengan ujung telapak tangan kanannya yang gemetar.

"Ini bukan masalah mengorbankan nyawa, tapi ini tentang kepatuhan kamu sebagai istri! Kamu harus memilih antara masa depan pernikahan kita atau terus-menerus membuang uang untuk ibumu!" bentak Dimas kian keras, merapatkan posisinya berdiri di depan sofa.

Maya merasakan goresan sepanjang dua sentimeter di pipi kanannya akibat sobekan kertas tadi sore terasa sangat perih terkena keringat dinginnya. Dia menarik napas panjang secara perlahan melalui hidung untuk meredakan denyut sakit kepala yang menyiksanya sejak kepergian Ibu Sarah dari paviliun. Kamar tamu paviliun malam ini terasa sangat pengap oleh aroma minyak angin mentol dan sisa uap pertengkaran yang melelahkan fisik mereka.

Keadaan ini memaksa dia untuk menyerah.

"Ibu kandung saya membutuhkan biaya obat rutin sebesar lima ratus ribu rupiah setiap bulan, Dimas. Itu bukan uang mewah, itu murni untuk bertahan hidup," ucap Maya, mencoba menyodorkan draf kenyataan medis ibunya secara dewasa.

"Tapi prioritas utama kamu sekarang adalah keluarga ini dan cicilan rumah KPR kita! Kalau kamu terus mengirim uang ke kampung, tabungan kita tidak akan pernah terkumpul!" sahut Dimas ketat, menolak mentah-mentah penjelasan medis ibunya.

"Uang lima ratus ribu itu tidak akan menghambat cicilan KPR kita jika kamu tidak memberikan uang bonus proyekmu kepada ibumu untuk membeli emas arisan, Dimas," balas Maya dengan nada suara datar namun tajam membedah akar masalah keuangan mereka.

"Gak usah mengalihkan pembicaraan, Maya! Pokoknya mulai besok pagi seluruh akses rekening tabungan gajimu harus diserahkan sepenuhnya kepadaku untuk dikelola bersama Mamah!" ancam Dimas, menggunakan ancaman laporan polisi masalah lantai licin sebagai alat pemerasan emosional finansial.

"Apakah itu juga berarti aku harus memberikan seluruh hak otonomi fisik dan pekerjaanku kepadamu?" tanya Maya, menatap lurus ke dalam sepasang mata suaminya yang merah menahan kesal.

"Iya! Selama kamu masih berstatus sebagai istriku, kamu harus tunduk pada semua aturan yang ditetapkan keluarga ini!" bentak Dimas.

Dimas mengancingkan lengan kemeja kerjanya yang kusut dengan gerakan tangan yang kasar, menunjukkan gestur tidak sabar menanti jawaban tunduk dari istrinya. Maya terdiam membisu, menolak merespons ancaman suaminya dengan teriakan atau tangisan kekanak-kanakan yang tidak berguna malam ini. Otak dewasanya secara dingin mulai membulatkan tekad untuk merancang skenario perceraian dan penuntutan balik secara hukum finansial terhadap Dimas dan Ibu Sarah.

Lihat selengkapnya