Paviliun Ibu Mertua

Salsabilla Kim
Chapter #31

Siasat Rekening Bayangan

"Ini teh gak melanggar hukum, kan, Maya? Kenapa harus pakai nama aku segala buat membuka rekening rahasia sebesar ini?" tanya Guntur sembari mengetuk-ngetuk map draf pembukaan rekening di meja lobi bank dengan cemas.

"Aku menjamin seluruh dananya legal dari hasil gajiku sendiri, Tur. Aku hanya butuh nama yang aman dari pelacakan aset keluarga Dimas," sahut Maya tenang, menggenggam pena hitam gel di atas kertas formulir.

"Tapi kalau ibunya Dimas tahu dan melaporkan aku ke polisi bagaimana? Aku gak mau tersangkut kasus rumah tangga kalian yang rumit ini," desis Guntur, membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya yang melorot.

"Mereka tidak punya hak hukum untuk melacak rekening atas namamu, Guntur. Hubungan hukum mereka hanya denganku, bukan dengan sepupuku," potong Maya mantap, meluruskan draf formulir di depan Guntur.

"Iya sih, tapi tetap saja rasanya mendebarkan berdiri di lobi bank sebesar ini dengan uang delapan puluh juta di tangan," bisik Guntur sembari menyeka keringat dingin di dahinya menggunakan ujung tisu putih kusam.

Maya menatap lurus ke arah tumpukan dokumen pembukaan rekening baru di lobi Bank BCA Jalan Asia Afrika Bandung yang dingin siang ini. Aroma kertas baru berbaur pekat dengan hawa sejuk dari embusan pendingin ruangan yang berbunyi dengung konstan di langit-langit lobi. Detak jam dinding digital di sudut lobi menunjukkan tepat pukul tiga sore lewat sepuluh menit saat mereka masih mengantre.

Aset finansialnya kini aman.

"Ibu Sarah memegang koneksi ilegal di bank tempatku menaruh gaji utama melalui Rian, sepupu Dimas. Jika aku memakai namaku sendiri, mereka akan langsung melacak dan memblokir dananya," jelas Maya secara dewasa dan taktis kepada sepupunya itu.

"Oh, begitu rupanya. Jadi, uang delapan puluh juta rupiah ini murni sisa tabungan hasil kerja kerasmu selama setahun bekerja di kantor direksi Pak Baskoro?" tanya Guntur memastikan kelogisan asal-usul dana yang akan dimasukkan ke rekeningnya.

"Iya, seluruhnya adalah uang hak pribadiku yang berhasil aku selamatkan sebelum Dimas menyita paksa kartu debit utamaku kemarin malam," jawab Maya sembari mengangguk kepala perlahan untuk meyakinkan kekhawatiran Guntur.

"Baiklah kalau begitu mah, aku bersedia membantu demi menyelamatkan hak kamu dari penindasan mertua gila itu," sahut Guntur, mengembuskan napas panjang untuk meredakan ketegangan fisiknya di dalam lobi bank.

"Terima kasih banyak atas bantuan besarmu, Guntur. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu hari ini," ucap Maya tulus sembari menepuk pelan pundak sepupunya yang masih tampak tegang berdiri di sebelahnya.

Lihat selengkapnya