"Kamu ngapain pergi ke kantor cabang bank di Jalan Asia Afrika kemarin siang, Maya? Mamah punya bukti fotomu keluar dari lobi bank bersama sepupumu!" tanya Dimas dengan nada suara tinggi menuntut penjelasan sembari membanting pintu geser paviliun dengan kasar malam harinya.
"Aku memindahkan seluruh dana tabungan gajiku sebesar delapan puluh juta rupiah ke rekening bayangan atas nama Guntur, Dimas. Aku tidak sebodoh itu menyerahkan seluruh hasil keringatku kepada ibumu," sahut Maya tenang, duduk tegak di sofa tamu tanpa kepanikan sedikit pun.
"Kurang ajar! Kamu membohongi aku dan Mamah! Serahkan semua uang itu sekarang atau masalah ini kita laporkan ke polisi!" bentak Dimas, wajahnya tampak pucat pasi menahan marah dan cemas.
Maya tidak membantah atau menunjukkan kemarahan yang tidak perlu di depan suaminya malam ini. Dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan teratur, dia membuka map plastik hitam di atas meja tamu, lalu mengeluarkan tiga lembar draf dokumen hukum tertulis yang disiapkan oleh pengacaranya, Pak Hermawan. Maya meletakkan lembar draf dokumen hukum tersebut tepat di depan dada Dimas.
Bukti-bukti ini telah mengunci langkahnya.
"Apa, apa-apaan kertas somasi hukum ini, Maya?" tanya Dimas dengan nada suara yang mendadak melemah dan bergetar hebat saat membaca lembar pertama dokumen tersebut.
"Itu adalah draf tuntutan pidana pembocoran rahasia perbankan oleh Rian, kasus pencurian kartu kredit cadangan olehmu, serta bukti penyelewengan dana bersama oleh ibumu untuk membeli emas arisan," jawab Maya dingin.
"Kamu, kamu tidak mungkin berani melaporkan keluargaku sendiri ke polisi, Maya!" bantah Dimas terbata-bata, menyeka keringat dingin di pelipisnya dengan jari tangan kanan yang gemetar.
"Aku memiliki bukti cetak mutasi aliran dana dari rekening bersama kita ke rekening pribadi ibumu sebesar tiga puluh juta rupiah, Dimas. Pihak bank juga akan memecat Rian secara tidak hormat besok pagi jika draf laporan ini masuk," sahut Maya secara dewasa.
"Tapi, tapi Mamah melakukan itu hanya untuk menyimpan uang kita dalam bentuk emas aman, Maya," bela Dimas, mencoba mencari pembenaran di sela-sela kepanikannya yang mulai runtuh.