Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #1

Prolog

Sayup-sayup suara riang yang diselingi gelak tawa terdengar dari sebuah rumah. Lebih tepatnya, di dalam sebuah ruang kecil tempat para penghuni biasa menghabiskan waktu untuk berbincang, bekerja, maupun sekadar melamun. Tidak heran jika mereka memilih ruang ini untuk berkumpul pada pagi ini dari sekian banyak tempat yang bisa ditemukan di sudut rumah, karena ruang ini seperti saksi bisu yang telah melewati banyak kejadian selagi mereka tumbuh bersama menjadi sebuah keluarga. Mereka adalah bukti nyata bahwa keluarga bisa terbentuk melalui sebuah ikatan yang tak kalah erat dengan ikatan darah.

Takdir memang memiliki cara yang unik untuk mempertemukan manusia dengan manusia lainnya. Jika sewaktu itu Lastri tidak memutuskan untuk merombak rumahnya dan menyewakan kamar, maka mereka tidak mungkin tinggal di sini. Tidak akan ada cerita yang membekas; tidak akan ada pelajaran yang bisa dipetik.

Aroma sedap kue yang baru saja keluar dari oven menyita perhatian semua yang ada di ruang tersebut, seperti baru melihat primadona yang kedatangannya ditunggu-tunggu. Pandangan mereka tertuju ke arah Odie yang membawa kue dua tingkat dan meletakkannya di atas meja dengan hati-hati supaya tidak jatuh. Kue cantik yang dihias dengan buah-buahan segar di atas frosting vanila lembut melengkapi hidangan lainnya yang tidak kalah menggugah selera. Belum ada lima menit kue tersebut diletakkan, Muthe buru-buru mengambil pisau kue seakan tidak sabar untuk memotongnya dan menyicipinya. Melihat hal itu, Odie menghentikan Muthe dari melancarkan aksinya.

“Eits, main potong aja. Kan belum difoto. Kopinya juga belum datang.” Odie meletakkan kembali pisau tersebut di samping kue, selagi memandangi mahakaryanya.

Muthe yang tertangkap basah hanya bisa nyengir. “Hehe. Liat aja, Kak Odie. Dys, kopinya masih lama?”

“Harusnya bentar lagi nyampe. Sabar ya, cantik-cantikku.” Gladys menjawab dengan santai sambil sesekali melirik ponselnya.

Orang dewasa mungkin bisa bersabar, namun berbeda halnya dengan anak kecil. Mona, anak bungsu Citra, sudah merengek ingin makan kue. Alhasil, Citra, dibantu Winny, berusaha menenangkan Mona dengan menceritakan dongeng yang ia suka. Dari semua penghuni di sini, Mona paling akrab dengan Winny karena baginya Winny ibarat ibu peri yang selalu punya banyak cerita. Tak jarang Winny menemani Mila bermain hingga tertidur lelap jika Citra sibuk bekerja sampai malam. Biasanya Mona akan tenang jika mendengarkan cerita, seperti tersihir oleh keajaiban dongeng. Namun, kali ini tidak. Bahkan cerita gadis kecil yang mengelabui serigala pun tidak bisa membuatnya berpaling dari kue yang sedari tadi memanggilnya.

Mendengar rengekan tersebut, Retta, atau yang biasa dipanggil Tante Retta, memiliki ide untuk mengajak Mona berjalan-jalan di halaman depan dan menugaskan Mila untuk memetik beberapa bunga yang sudah mekar. Halaman depan terlihat seperti taman bunga milik pribadi karena banyaknya bunga yang ditanam seperti bunga mawar, melati, kamboja, kembang sepatu, marigold, dan tentu saja bunga randa tapak, atau yang lebih familiar disebut dandelion.

Retta duduk di kursi kayu sambil memerhatikan Mona yang sedang asyik memetik bunga dan menggenggamnya erat-erat, seakan ia takut jika bunga-bunga yang cantik tersebut jatuh. Dengan langkah kecilnya ia berjalan dari satu petak ke petak lainnya, sampai ia akhirnya bertemu dengan bunga dandelion. Retta yang melihat hal itu kemudian tersenyum penuh arti. Ia teringat akan Lastri yang memutuskan untuk menanam bunga dandelion di antara banyak pilihan bunga indah lainnya.

Dulu, Retta juga tidak memahami di mana letak indahnya bunga tersebut. Warnanya pucat, sekali tertiup angin langsung terbang, dan kelihatannya muram. Yah, pokoknya tidak menarik. Akan tetapi, sekarang barulah ia tahu di mana letak keindahannya setelah mendengar penjelasan dari Lastri.

“Bunga dandelion memang kelihatannya rapuh, namun sebenarnya dia bisa tumbuh dengan kuat di berbagai kondisi tanah dan cuaca yang ekstrem. Maka dari itu, bunga ini terkenal sebagai simbol harapan.”

Setelah dipikir lagi, Lastri memang benar. Bunga-bunga dandelion ini bisa diumpamakan sebagai dirinya sendiri dan juga penghuni paviliun lainnya. Walaupun terbang, terhuyung-huyung oleh angin berkali-kali, mereka tetap bisa tumbuh setelahnya di mana pun mereka menemukan pijakannya kembali.

“Oma? Oma! Oma Retta!” Suara Mona menyadarkan Retta dari lamunannya. Mila berdiri tepat di depan Retta, masih menggenggam bunga-bunga yang ia petik.

“Ah iya, kenapa sayang?”

“Aku panggil Oma dari tadi, tapi Oma diem aja. Oma lagi mikir sesuatu?”

Retta lantas menepuk kepala Mona dengan pelan dan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan polos khas anak kecil. “Lagi mikir kapan ya kopinya datang? Biar kita semua bisa langsung makan!”

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dari luar gerbang paviliun, terdengar suara mesin motor yang baru saja dimatikan. Seorang pria kemudian turun dari motor tersebut dan dengan ramah bertanya kepada Retta yang saat itu sedang berjalan mendekati gerbang.

“Bu, maaf numpang tanya. Ini benar ya, Paviliun Randa Tapak?” Pria yang merupakan pengantar makanan online tersebut memicingkan mata dan mengernyitkan kening sembari melihat papan yang ada di dinding gerbang.

“Betul, Mas. Pesanan kopi atas nama Gladys, bukan?”

Pria tersebut kemudian mengecek nama pemesan yang tertera pada aplikasi untuk memastikannya.

“Benar, Bu. Ini pesanannya ya, Bu. Silakan dicek lagi apakah jumlahnya pas.”

Lihat selengkapnya