Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #2

Elodie

Namaku Elodie, biasa dipanggil Odie. Aku adalah penghuni pertama Paviliun Randa Tapak. Sebenarnya aku tidak membutuhkan tempat tinggal secara khusus karena aku sudah memilikinya, hingga suatu saat aku tertimpa sebuah musibah yang mengharuskan aku untuk mencari tempat lain untuk dihuni. Selama ini aku tinggal di toko kueku sendiri, lebih tepatnya di sebuah gudang kecil yang aku sulap menjadi kamar tidur. Walaupun jauh dari kata nyaman, aku tidak merasa keberatan karena apa yang aku butuhkan ada di toko. Kasur, kamar mandi, dapur, semua sudah tersedia. Selain itu, tinggal di sini juga bisa memangkas pengeluaranku untuk kebutuhan transportasi. Pilihan yang tepat, bukan?

Bukan.

Ini sama sekali bukan pilihan yang tepat.

Aku sudah salah sangka tentang segalanya. Berangkat dari mimpi untuk menjadi mandiri dan mewujudkan cita-cita mendiang ibuku, aku bertekad untuk membuka toko dan belajar membuat kue. Persiapannya kira-kira membutuhkan waktu lebih dari satu tahun. Tanpa pengalaman dan bimbingan dari orang lain, aku nyaris melakukan semuanya sendiri, kecuali untuk hal-hal berat seperti merenovasi ruko lawas ini menjadi toko kue mungil yang aku harap bisa menarik pelanggan.

Letak toko ada di samping jalan yang tidak terlalu ramai, namun tidak sepi juga. Setiap hari pasti ada kendaraan dan pejalan kaki yang berlalu-lalang dalam jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit. Jika ada pejalan kaki yang lewat, aku akan bersiap-siap menyambut mereka sekiranya mereka ingin membeli sesuatu. Namun, jangankan membeli, membuka pintu pun sepertinya mereka enggan.

Dalam sebulan, aku rasa aku lebih banyak meraup kerugian daripada keuntungan. Aku ragu apakah sisa tabunganku cukup untuk menjamin kebutuhanku selama beberapa bulan ke depan. Jika keadaan tidak kunjung membaik, sepertinya aku harus kembali ke rumah ayahku dan menyatakan kekalahan. Bagian terburuknya adalah bagaimana ia akan menertawakanku dengan segala mimpiku yang ia anggap tidak realistis di zaman modern ini. Mengerikan. Hal yang tidak ingin aku dengar saat ini adalah celotehannya dan lelucon sarkastisnya yang sama sekali tidak lucu. Belum lagi cemoohan dari keluarga besar. Membayangkannya saja sudah membuat kepalaku pusing. Maka dari itu, aku harus bisa bertahan bahkan di tengah krisis pelanggan seperti ini.

Selain memanggang kue dan membersihkan toko, aku juga mencari cara untuk bisa menarik lebih banyak pelanggan. Mulai dari yang sederhana saja, seperti menyempatkan waktu untuk berdiri di luar dan menyapa pejalan kaki. Siapa tahu mereka sedikit tertarik untuk masuk, melihat-lihat, dan pada akhirnya membeli. Berapa pun jumlahnya, tidak masalah; setidaknya bisa mengurangi beban sekaligus rasa bersalahku akibat membuang-buang makanan. Aku berusaha untuk tetap mempertahankan kualitas dalam keadaan apa pun. Roti dan kue yang dipanggang harus baru setiap harinya supaya rasa maupun teksturnya tidak berubah. Jika tidak habis pada hari itu, maka roti dan kue tersebut harus siap-siap berakhir di tempat sampah.

“Selamat pagi, Pak. Kita di sini nggak cuma jual yang manis, tapi ada juga sandwich yang cocok untuk sarapan. Barangkali Bapak mau coba?”

“Selamat siang, Ibu. Silakan masuk dan coba donat yang baru matang.”

“Sore, Adek. Pasti habis main ya? Eh, kamu mau makan yang manis-manis nggak? Tante punya kue enak lho.”

Begitulah kalimat ajakan yang aku ulang setiap harinya tanpa kenal lelah. Memang nyatanya pendekatan seperti ini mendatangkan pelanggan, namun belum bisa menutup kerugian yang aku alami. Ada yang datang karena penasaran, ada juga yang terang-terangan memaki karena mengganggu waktunya. Ketika itu terjadi, aku hanya bisa menghela napas dan memejamkan mataku, membayangkan hal-hal tidak menyenangkan yang mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Merasa lelah itu wajar, apalagi jika aku tidak memiliki dukungan moral. Selepas itu, aku berusaha untuk bangkit kembali karena aku pantang menyerah. Segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Mungkin saat ini aku masih tersesat di antara persimpangan, namun pada akhirnya aku akan sampai di tujuan jika aku membiarkan kakiku terus melangkah.

Setiap manusia pasti pernah dihadapkan pada sesuatu yang sulit, mungkin bukan hanya sekali, namun itulah yang membuat hidup layak untuk diperjuangkan. Aku pun akan berjuang untuk mempertahankan tokoku, terlebih lagi harga diriku. Saat aku memutuskan untuk keluar dari rumah, aku bilang kepada ayahku bahwa aku tidak akan menginjakkan kaki di rumah itu lagi sebelum aku sukses. Saat itu, aku terlalu terbawa oleh emosiku sendiri sehingga berani melontarkan kata-kata seperti itu yang masih aku pegang dengan teguh hingga sekarang.

“Ayo kita coba resep baru.” Gumamku kepada diriku sendiri. Karena keterbatasan biaya, aku belum berani untuk mempekerjakan orang lain. Aku hanya dibantu oleh adik laki-lakiku, itu pun tidak setiap hari. Dia datang sesuka hatinya dan pergi setelah mendapatkan upah hariannya. Aku tahu itu hanya alasannya untuk mendapatkan uang jajan tambahan, namun aku pura-pura tidak tahu. Bagaimanapun juga, aku adalah kakaknya dan sudah sewajarnya aku memberinya uang jajan walau jumlahnya tidak seberapa.

Hal lain yang aku lakukan selain melakukan pendekatan adalah mengembangkan resep sekaligus mencoba resep-resep baru. Menyediakan berbagai macam roti dan kue-kue yang menarik adalah salah satu cara untuk menarik pelanggan. Aku mengambil buku resep yang tersimpan di dalam laci. Buku tersebut bukanlah buku resep biasa, melainkan kumpulan resep-resep yang ditulis sendiri oleh mendiang ibu. Alih-alih mengambil resep milik orang lain dan menyalinnya kembali, beliau telah menguji tiap resep dan menyempurnakannya sehingga cocok di lidah. Aku tidak pernah meragukan soal rasanya, karena aku adalah bukti nyata bahwa ibu tidak pernah gagal dalam membuat kue.

Sedari kecil, aku sudah terbiasa dengan bau kue yang tercium dari dapur. Ibu memang suka menghabiskan banyak waktu di sana. Mencampurkan bahan-bahan, mengaduknya, menguleni adonan, mencetak adonan, dan kemudian memanggangnya. Di bayanganku, dia sudah seperti penyihir dengan kuali besarnya, mencampurkan berbagai macam bahan untuk membuat ramuan ajaib. Bedanya, ramuan ajaib yang ia buat berwujud kue-kue cantik yang rasanya tidak bisa ditemukan di mana pun. Bahkan sampai saat ini pun, aku selalu mencari rasa yang sama. Berbagai macam toko kue sudah aku datangi, namun tidak ada satu rasa pun yang mendekati kue buatan ibuku. Aneh. Aku pikir semua kue resepnya sama. Kenapa rasanya bisa berbeda-beda? Apa yang membuatnya berbeda?

Merasa tidak puas dan penasaran, aku berusaha untuk menghidupkan kembali sisa-sisa kenangan yang aku miliki bersama ibu melalui resep-resepnya. Aku yakin tidak akan ada yang salah jika aku benar-benar mengikuti resepnya, mulai dari bahan yang tepat hingga cara membuat yang runtut. Perjalananku membuat kue bisa dibilang tidak berjalan terlalu mulus karena aku mengalami beberapa kegagalan. Mulai dari kue yang bantat, kue yang tiba-tiba kempis saat dikeluarkan dari oven, sampai cookies yang bisa dijadikan sebagai pengganti batu bata saking kerasnya. Di balik setiap kesuksesan, pasti ada kegagalan, dan begitu juga sebaliknya. Setiap kali aku berhasil membuat sesuatu, esoknya aku akan gagal.

Setelah menelusuri beberapa halaman dan membaca resep dengan saksama, aku menemukan satu resep yang sekiranya mudah dibuat. Muffin. Aku mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan di pantry sebelum membawanya ke baking station dan memulai proses eksekusi.

Telur, susu, gula, baking powder, mentega, ekstrak vanila, dan tepung sudah berjajar dengan rapi di atas meja. Dilihat dari bahan-bahannya, seharusnya membuat muffin tidaklah susah. Sambil sesekali melihat buku resep, aku memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam mangkuk ukuran sedang sesuai urutannya. Setelah semua bahan masuk, barulah aku mulai mengaduk. Tidak usah terlalu lama, hanya sampai semuanya tercampur, setidaknya itu yang tertulis di resep. Namun, karena kurang yakin, aku mengaduknya kembali selama kurang lebih dua menit. Persiapannya sederhana: langkah yang tersisa hanyalah menuangkan adonan muffin ke dalam cetakan dan memanggangnya selama 18 menit hingga permukaannya berwarna kuning keemasan.

Sambil menunggu muffinnya matang, aku membersihkan kaca jendela luar. Konon katanya, terlihat sibuk bisa mendatangkan pelanggan, dan ini saat yang tepat untuk membuktikan apakah teori itu benar adanya atau hanya bualan belaka. Aku melihat ke sekeliling sembari mengelap kaca sampai ke sudut-sudut. Tidak banyak pejalan kaki yang lewat; hanya ada kendaraan beroda yang terlalu sibuk untuk singgah di sebuah toko yang keberadaannya sering kali terlupakan.

Ah, sepertinya hari ini pun toko akan sepi. Saat aku hendak masuk kembali untuk mengecek muffin yang masih terpanggang, datanglah seorang wanita yang sepertinya berusia 50-an. Wanita tersebut berpenampilan sederhana dengan tas kecil anyam yang ia jinjing, kemeja berwarna biru muda polos, dan tanpa mengenakan aksesori. Sambil berteduh dari sengatan matahari di bawah payungnya, ia bertanya padaku.

“Maaf, Nak. Masih buka, kan?”

Lihat selengkapnya