Paviliun Randa Tapak

Moli
Chapter #3

Elodie

Kehadiran Bu Lastri seperti kehadiran seorang penyelamat di tengah bencana yang datangnya tidak terduga. Aku teringat bahwa ia menyewakan beberapa kamar. Seakan bisa membaca pikiranku, ia membuka pembicaraan dan menawarkanku untuk tinggal di rumahnya yang ia sebut Paviliun Randa Tapak. Nama yang menarik walaupun aku sendiri tidak tahu makna di balik randa tapak. Nama tersebut memberi kesan rumah nenek yang penuh dengan kehangatan.

“Kata mandor, pengerjaannya cuma memakan waktu tiga sampai lima hari. Apa…Ibu nggak keberatan? Maksudnya, saya cuma bayar biaya sewa per hari. Apa boleh?”

“Lho, ya sama sekali nggak keberatan. Siapa pun yang memerlukan tempat untuk singgah, mau itu hanya sebentar atau untuk waktu yang lama, saya tidak akan pernah keberatan.”

Ucapannya meyakinkanku untuk menyewa kamar di tempatnya selama beberapa hari sampai kamar tidurku kembali seperti sedia kala.

“Tunggu apa lagi? Ayo, kemas barang-barangmu.” Cetus Bu Lastri yang sekarang sudah mendahuluiku memasuki kamar.

Puing-puing reruntuhan berserakan di mana-mana, menimbun sebagian besar barang-barang. Tanpa sengaja, aku tersedak kepulan debu dan terbatuk hebat sambil menutup mulut dan hidungku secara spontan. Melihat hal itu, Bu Lastri menawarkanku sebuah masker yang langsung aku kenakan demi kesehatanku. Tidak banyak barang yang bisa diambil. Aku hanya terpikir untuk membawa baju secukupnya, laptop, dan peralatan mandi.

Menjelang malam, aku bersama Bu Lastri berjalan menuju rumahnya. Ternyata selama ini ia tinggal di gang yang letaknya tidak jauh dari tokoku, hanya terpaut beberapa bangunan. Lampu-lampu mulai menerangi jalan yang saat itu terlihat lebih sepi daripada hari biasanya. Terdengar suara jangkrik yang bermunculan satu per satu seperti sudah dilatih sebelumnya. Tanpa sadar, aku mengeluarkan tawa kecil.

“Saya sudah hampir empat bulan tinggal di sini, tapi baru tahu kalau di dekat sini ada semacam kos. Atau sayanya aja yang kurang bergaul, ya?” Tanyaku berinisiatif untuk memulai percakapan dengan Bu Lastri supaya perjalanan tidak terasa begitu canggung.

“Nggak juga, ah. Memang belum banyak yang tahu karena rumahnya baru selesai dirombak seminggu yang lalu.”

“Ooh, masih baru berarti ya. Saya kira sudah lama buka.”

Bu Lastri mengibaskan tangannya ke udara, gestur khas yang diperagakan seseorang untuk menyangkal atau membantah suatu pernyataan. “Suami saya memang sudah meninggal satu tahun yang lalu, namun saya baru kepikiran untuk membangun kos ini enam bulan yang lalu. Siapa sangka pengerjaannya bisa memakan waktu hampir setengah tahun sendiri.”

“Mmm begitu ya, Bu. Tapi kalau pengerjaannya banyak, waktu enam bulan bisa dibilang lumayan cepat.”

“Iya kah? Saya kurang tahu soal itu. Rasanya tiap hari liat mereka bekerja, tapi nggak sadar ada yang berubah. Tahu-tahu sudah jadi saja.”

Mendengar cerita Bu Lastri, aku tertawa kecil karena bisa memahami apa yang ia rasakan saat aku pertama kali melakukan renovasi terhadap ruko lawas yang sekarang menjadi tokoku. “Haha, iya. Saya paham. Awal bikin toko juga saya ngerasa pengerjaannya lama, mungkin karena saya nggak sabar juga. Namun lama-kelamaan, waktu itu terasa seperti berlalu begitu saja.”

“Makanya banyak yang bilang hidup itu singkat, karena kita tidak tahu sampai kapan kita akan hidup. Bagi sebagian orang, 24 jam bahkan bisa terasa seperti 24 menit saja. Bukan karena waktunya tidak cukup, mungkin karena mereka kurang bersyukur atas waktu yang diberikan. Belakangan ini saya melihat banyak orang yang terburu-buru, kalau jalan kakinya seperti sengaja dihentakkan, dan raut mukanya masam. Saya sendiri takut kalau bertemu orang seperti itu. Kadang, saya juga bertanya-tanya apa yang sebenarnya mereka kejar dalam hidup ini. Apa tidak cukup untuk sekadar menjalani dan menikmatinya? Tapi ya, ini hanya pemikiran orang tua seperti saya.”

Sebagai salah satu dari segelintir orang yang beranggapan demikian, ucapan Bu Lastri menyadarkanku dan memberi perspektif baru tentang bagaimana seharusnya manusia memanfaatkan waktu. Ketika baru awal merintis usaha kecil-kecilan ini, aku langsung bermimpi besar bahwa aku akan sukses dalam waktu yang dekat, sehingga aku lupa bahwa ada proses di setiap perjalanan. Aku hendak menimpali percakapan dengan kisahku yang relevan, namun aku terlalu malu untuk menceritakannya. Alhasil, aku berseloroh menanggapi ucapan Bu Lastri sebelumnya.

“Tapi pernah kebayang nggak, Bu, kalau misalnya dalam satu hari ada 25 jam? Bisa dapat jam tambahan buat nonton drama.”

“Wah, enak juga ya, tapi 24 jam saja sudah cukup untuk saya. Ngomong-ngomong, namamu siapa?”

Astaga. Ternyata setelah bercakap-cakap sedari tadi, aku belum sempat memperkenalkan diriku secara formal.

“Ya ampun, saking asyiknya ngobrol, saya sampai lupa.” Aku mendaratkan tangan di dahiku dan tertawa lepas. “Nama saya Odie, Bu.”

“Odie, ya? Ya, ya…Odie…” Bu Lastri menggumamkan namaku berkali-kali sambil mengangguk paham. “Nggak nyangka ya, kamu semuda ini udah berani bikin usaha sendiri. Padahal kelihatannya sepantaran dengan anak saya yang umurnya baru 20 tahun.”

Lihat selengkapnya