Semalam aku tidur sangat nyenyak sehingga aku tidak terkejut ketika alarm membangunkanku di pagi buta. Sebelum berangkat menuju toko, aku menyempatkan diri untuk membuat sarapan sederhana untuk Bu Lastri dan Gina yang sudah berbaik hati menampungku sementara waktu. Menampung mungkin bukan kata yang tepat karena pada dasarnya aku menyewa kamar selama beberapa hari, namun tetap saja aku sangat berterima kasih atas keramahan mereka. Takut membangunkan Bu Lastri, aku berjalan setengah berjinjit untuk meminimalkan suara langkah kaki. Semoga beliau bukan tipe orang yang sensitif terhadap suara selirih apa pun itu.
Sembari membiarkan kakiku melangkah ke dapur, aku mengedarkan pandang ke berbagai sudut rumah dari lantai atas sampai sekeliling ruang tamu, berjaga-jaga jika sudah ada yang bangun. Sudah seperti maling yang takut tertangkap saja, batinku. Sepertinya belum ada yang bangun karena aku tidak mendengar maupun merasakan tanda-tanda kehidupan.
Sesampainya di dapur, aku membuka lemari pendingin. Mataku dengan teliti menyapu seluruh isi lemari, mencari bahan-bahan yang memungkinkan untuk dimasak. Kuakui bahwa isi di lemari tersebut lebih banyak daripada yang bisa kubayangkan. Sepertinya cukup untuk dua minggu. Aku sendiri tidak pernah menyimpan bahan-bahan makanan untuk konsumsi selama dua minggu. Aku membeli apa yang sekiranya bisa aku masak. Selain itu, aku memang jarang makan.
Meskipun bahan makanan berlimpah, aku hanya fokus pada telur, selada, tomat ceri, dan mayones yang isinya sudah berkurang setengahnya. Cocok untuk dibuat roti lapis, pikirku. Menu sarapan sudah ditetapkan. Aku pun bergegas mencuci sayuran secara menyeluruh sehingga tidak ada kotoran yang tertinggal. Kemudian aku menghitung telur yang dibutuhkan dan memasaknya dengan cara diorak-arik. Setelah semua persiapan selesai, aku hanya perlu menata telur dan sayur-sayuran di antara roti sebelum diberi saus mayones. Sarapan sudah jadi.
Masih ada sedikit waktu sebelum aku bersiap-siap membuka toko. Aku bimbang apakah aku harus membangunkan Bu Lastri dan Gina atau membiarkan mereka tidur lebih lama. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan sebuah catatan di samping piring di mana roti lapis dihidangkan. Catatan tersebut bertuliskan: “Aku harus pergi ke toko. Maaf, nggak sempat pamit. Silakan dinikmati sarapannya!”
***
Sebelum aku resmi memulai hariku dengan membuka toko, ada mantra yang selalu aku rapalkan: “Semoga hari ini lebih baik daripada sebelumnya.” Aku pernah membaca di sebuah buku kalau kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk membuat sebuah harapan menjadi kenyataan, selain berusaha dan berdoa, tentu saja. Salah satu caranya adalah memulai hari dengan mengucapkan hal-hal yang baik dan menggumamkan apa yang ingin kita capai hari ini, semacam afirmasi. Itulah yang aku percayai: jika aku memulai hariku dengan murung, maka sampai akhir pun hariku akan ditutup dengan kemurungan. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Langkahku terasa ringan saat mengucapkan mantra tersebut.
Persiapan sebelum membuka toko membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Dimulai dari membersihkan toko, menyiapkan bahan, dan memanggang beberapa kue yang akan dijual hari ini. Untung saja ada jenis kue yang adonannya bisa disimpan di dalam lemari es. Hal ini bisa menghemat waktuku untuk melakukan hal yang lain, seperti membuat brownies. Berdasarkan legenda populer, brownies adalah kue yang gagal karena seorang pembuat roti lupa memasukkan baking powder ke dalam adonan brownies. Lucu juga. Walau begitu, rasanya tetap enak.
Cahaya matahari mulai terlihat jelas. Aku menata cookies, brownies, dan juga donat di display case supaya terlihat cantik. Tepat pukul 9, aku membalikkan papan yang terletak di depan pintu dari “tutup” menjadi “buka”. Tidak lama setelahnya, aku melihat dua orang pekerja bangunan yang datang lebih awal dari dugaanku.
“Pagi, Neng. Katanya ada plafon yang ambruk.” Ucap salah satu dari mereka yang berperawakan lebih tinggi.
“Betul. Silakan masuk, Pak.” Aku mempersilakan mereka untuk masuk dan melihat keadaannya secara langsung.
Saat tiba di ambang pintu, mereka hanya melihat ke sekeliling ruangan sambil sesekali mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata. Kali ini, mereka mendongakkan kepala melihat langit-langit yang meninggalkan rongga dan kehampaan akibat plafon yang roboh. Barulah kemudian salah satu di antara mereka mengatakan sesuatu.
“Ini bisa kelar dua hari aja, Neng. Emang sih cukup parah, tapi untung aja nggak semuanya roboh. Jadi ya…harusnya bisa cepet.”
“Syukurlah kalau gitu, Pak.” Aku menghela napas lega.
“Tapi nggak masalah kalau sedikit berisik? Saya takut pelanggan terganggu.”
“Nggak masalah, Pak. Lagian saya juga nggak punya begitu banyak pelanggan. Haha.” Tawaku pahit setelah mengatakan hal yang benar, walaupun sulit untuk menerimanya.
Kedua pekerja tersebut bergegas melakukan pekerjaannya tanpa arahan lebih lanjut, seperti robot yang sudah diprogram untuk melakukan sesuatu dengan cekatan. Mungkin inilah yang dinamakan pengalaman bertahun-tahun. Dengan bekal yang mereka dapatkan, mereka tidak lagi menerka-nerka tentang apa yang harus mereka lakukan. Sepertinya aku bisa mempercayakan mereka untuk hal ini, karena bagaimanapun juga mereka lebih tahu daripada aku.
Selagi mereka bekerja dengan ulet, aku berinisiatif menyuguhkan panganan dan kopi hitam. Tiba-tiba aku teringat muffin yang kubuat kemarin. Baiklah, hari ini aku akan mencoba membuat muffin untuk yang kedua kalinya. Jika percobaan kedua berhasil, aku akan menyempurnakan resep sebelum kutaruh ke dalam menu.
Lonceng pintu berbunyi ketika aku hendak mencampurkan bahan-bahan ke dalam mangkuk besar. Hari belum beranjak siang dan aku sudah kedatangan pelanggan? Tumben sekali. Aku berjalan menuju pintu dan menyapa pelanggan.
“Selamat pagi. Selamat datang di Odie’s Bakery. Ada yang bisa dibantu?”
“Di sini jual sourdough nggak, Mbak?” tanya seorang wanita berusia sekitar 30-an dengan rambut yang diikat dan kacamata hitamnya yang terlihat mentereng.
“Sourdough…belum ada, Kak.”
Wanita tersebut menurunkan kacamatanya dan menatapku tidak percaya. “Ya udah. Kalau baguette ada?”
“Belum juga, Kak…”
Ia pun berdecak seperti menandakan kekecewaannya. “Roti tawar? Jangan bilang nggak ada juga.”
“Kalau roti ada, Kak. Mari saya bantu.”
Aku mengarahkannya ke tempat di mana roti tawar berjejer dengan sempurna. Ia mengambil dua bungkus sebelum membayar dan berjalan dengan tergesa-gesa.
Melayani setiap pelanggan tanpa pengecualian adalah kewajibanku. Terlepas dari bagaimana cara mereka memperlakukanku, aku tidak bisa marah begitu saja untuk mengungkapkan kekesalanku. Hal ini tidak hanya terjadi satu dua kali, dan aku mulai kebal terhadap perilaku pelanggan yang terkadang tidak bisa ditebak. Sekarang pun, aku menganggapnya sebagai hal yang biasa terjadi. Memang salahku karena belum menguasai beberapa resep dan teknik, sehingga pelanggan tidak memiliki banyak pilihan.
Aku kembali ke tujuan utamaku, yaitu membuat muffin dengan resep dan cara yang sama. Tidak ada yang diubah secara signifikan, kecuali waktu memanggang yang berkurang. Mungkin muffin yang dihasilkan akan lebih lembut, pikirku.
“Ting.” Timer dari oven berbunyi setelah 15 menit. Aku mengangkat loyang dan membiarkannya pada suhu ruang hingga terasa tidak begitu panas saat dipegang. Sambil menunggu, aku membuat kopi hitam panas yang sebenarnya tidak cocok untuk cuaca pada hari ini.
“Silakan dimakan dan diminum ya, Pak.” Aku meletakkan nampan berisi muffin dan kopi di atas meja kecil yang selamat dari puing-puing kehancuran.
“Waduh. Makasih banyak, Neng. Jadi nggak enak.”
“Santai aja, Pak. Biar kerjanya juga makin semangat. Istirahat dulu aja, Pak.”
Mereka berdua terlihat girang dan segera menghentikan pekerjaan mereka untuk mengambil muffin, masing-masing satu. Aku menunggu dan memperhatikan mereka, mengharapkan sebuah reaksi. Alih-alih reaksi positif, raut wajah mereka malah susah ditebak. Mereka berdua mengunyah dalam hening dan saling berpandangan, seakan-akan mereka saling berkomunikasi dan bisa mengerti satu sama lain hanya dengan tatapan.
“Gimana rasanya, Pak?”
Mereka berdua terlihat kebingungan.
“Eh…enak. Enak, Neng.” Ucap salah satu yang tinggi.
“I—iya. Rasanya pas.” Teman yang lebih pendek menyahut.
Curiga, aku menyambar satu muffin di meja dan memakannya. Belum selesai mengunyah, aku memuntahkan muffin tersebut ke dalam tempat sampah terdekat.
“Pak…ini asin banget, lho. Kenapa nggak bilang aja sama saya?”