Seseorang tidak akan tahu betapa lelahnya seorang ibu hingga ia merasakannya sendiri suatu saat nanti. Menjadi seorang ibu dianggap sebagai pekerjaan yang remeh, padahal mereka merelakan waktu yang seharusnya dipakai untuk istirahat demi menemani anak mereka bermain, belajar, dan lain sebagainya. Hari mereka dimulai pagi buta, saat matahari masih enggan untuk menampakkan wujudnya, dan berakhir saat anak mereka terlelap. Itu pun kalau mereka benar-benar terlelap dan tidak terbangun lagi karena mimpi buruk atau hal lainnya.
Aku bangun tepat jam setengah lima pagi untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan kewajibanku sebagai seorang ibu, seperti membersihkan rumah, membuat sarapan dan bekal, serta menyiapkan segala perlengkapan Mila untuk pertunjukan nanti. Hari ini, sekolahnya mengadakan pentas seni bagi semua murid dari kelas satu sampai enam. Mila mendapat bagian untuk tampil dalam sebuah drama yang memerankan tokoh Gretel dalam dongeng anak-anak populer berjudul “Hansel dan Gretel”.
Dongeng tersebut menceritakan tentang dua saudara yang terperangkap di dalam rumah penyihir jahat karena tergiur oleh rumah permen milik penyihir yang dianggap sangat tidak biasa. Di akhir cerita, mereka berhasil mengelabui penyihir tersebut dan pulang dengan selamat setelah membawa pergi harta karun si penyihir. Cerita anak-anak memang memiliki keajaibannya sendiri untuk membuat para pembaca mempercayai bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin, namun hidup pada kenyataannya tidak seperti apa yang digambarkan oleh dongeng.
Saat mengetahui bahwa ia akan berperan sebagai Gretel, Mila awalnya ragu dan takut bahkan sebelum ia memulainya. Aku sempat berkonsultasi juga dengan gurunya untuk mengeluarkan Mila dari daftar pemeran utama. Sebagai gantinya, aku mengusulkan ide supaya Mila mengambil peran yang tidak terlalu signifikan jika hal tersebut memungkinkan. Gurunya menolak permintaanku dengan halus dan mengatakan bahwa ia percaya pada kemampuan Mila; itulah sebabnya ia memberi Mila peran utama. Sebagai ibu, aku sungguh malu karena hal pertama yang seharusnya kulakukan adalah memberi kepercayaan pada anakku dan meyakinkannya bahwa ia bisa melakukannya. Bagaimana bisa seorang ibu meragukan anaknya? Setelah berbincang dengan guru Mila, aku menyadari kesalahanku dan tidak ingin berdebat lebih lanjut. Jika anak lain bisa, maka Mila pun bisa.
Ada waktu selama dua minggu untuk berlatih dan mengurus keperluan drama sebelum pentasnya digelar. Aku senantiasa mendampingi Mila menghafal dialognya, sambil sesekali mengarahkan ekspresi serta gerakan. Tidak jarang, aku berlagak menjadi pemeran lain. Latihan berjalan dengan mulus, namun keraguan tersebut masih ada dalam benaknya.
“Ma, kalau Mila tiba-tiba lupa waktu di atas panggung, gimana?”
“Tenang, nanti ada ibu guru yang akan bantu Mila.Tapi Mama yakin Mila pasti bisa.”
Mila melanjutkan sarapannya, sementara aku mengepang rambutnya dan mengikat bandana berwarna biru di belakang kepalanya.
Walaupun Mila tidak mengatakan apa-apa dan berusaha terlihat tenang, raut wajahnya tidak bisa berbohong kalau saat ini dia merasa resah. Aku memeluknya erat sebelum mengecup keningnya dan memberinya semangat. Jangan pernah meragukan kekuatan dari kata-kata penyemangat, karena kita tidak akan tahu seberapa besar pengaruhnya. Hal ini juga berlaku untuk Mila yang nampak lebih santai daripada sebelumnya.
“Udah siap semua? Yuk, berangkat.” Ucap Andre, suamiku, saat menuruni tangga.
“Kamu mau ikut nonton atau cuma nganter aja?”
“Nonton lah. Ini kan pertama kalinya Mila tampil. Iya kan, sayang?” Andre mencubit pipi Mila gemas.
“Bukannya kamu ada janji hari ini?” Tanyaku bingung, merasa ada yang ganjil.
“Ah, itu urusan belakangan. Lagian, kamu ini kenapa sih tanya-tanya terus?” Andre mengernyit, meningkatkan nada bicaranya.
Meributkan sesuatu yang sebenarnya sederhana sudah menjadi makanan sehari-hariku. Setiap hari, selalu ada hal yang dipeributkan. Andre bisa membuat pertanyaan sederhana menjadi sesuatu yang membuatnya tersinggung. Sikapnya sungguh berbeda saat kami dulu masih berpacaran. Ia lebih tua dariku, sehingga wajar rasanya jika aku saat itu menganggapnya sebagai sosok yang bisa kuteladani karena pengetahuan bisnisnya yang luas. Selain itu, dia terlihat mengayomi dan sabar. Namun, semuanya seketika berubah ketika kami memasuki bulan keempat pernikahan. Andre mulai menampakkan wajah aslinya yang sama sekali tidak mengayomi dan cenderung kasar. Apa pun yang kukatakan, dia selalu punya balasan untuk membantahnya. Apa pun yang kurasakan, dia selalu punya cara untuk mengabaikannya. Bahkan saat aku ingin membicarakan sesuatu secara baik-baik, ia menganggapnya sebagai suatu ancaman. Banyak keluhan yang selama ini aku pendam sendiri karena bagiku rasanya percuma untuk mengutarakannya pada orang lain dan berharap mereka akan berpihak kepadaku atau setidaknya memberikan solusi yang tepat. Mereka hanya menyuruhku untuk bersabar dan memaklumi suamiku. Sabar, sabar, sabar. Entah berapa lama aku bisa menahannya karena aku sudah cukup sabar untuk menghadapinya.
Merasa tidak ingin membuat suasana di pagi hari menjadi runyam, aku menganggap kata-kata Andre barusan sebagai angin lalu. Aku lelah berdebat, terlebih di hari yang seharusnya spesial bagi Mila. Demi kebaikan bersama, aku memasang senyum terindahku dan mengajak mereka bersiap-siap untuk yang terakhir kalinya sebelum berangkat menuju sekolah.
Di perjalanan, aku dan Andre tidak banyak berbicara. Andre sibuk menyetir sementara aku sibuk memandangi jalan. Mila yang duduk di kursi belakang juga disibukkan dengan kepentingannya, yaitu menghapal dialog. Jika bukan karena Mila, mungkin perjalanan akan terasa membosankan tanpa adanya suara. Andre selalu melarangku untuk memutar lagu di dalam mobil karena mengganggunya, namun terkadang ia memutar lagunya sendiri dan aku harus mendengarkannya sepanjang perjalanan walaupun selera musik kita berbeda.
Sesampainya di sekolah, kami disambut oleh beberapa guru yang saat itu berada di dekat gerbang. Salah satu dari mereka memberikan selembar pamflet berisi informasi seputar pentas seni yang diadakan sekali tiap semester. Di dalamnya juga ada denah lokasi di mana pentas dilaksanakan. Kami berjalan mengikuti arah, atau lebih tepatnya, mengikuti ke mana kaki Mila melangkah karena dia yang lebih paham. Setelah menyusuri lorong-lorong kelas, halaman, menaiki tangga, dan menyusuri lorong kelas untuk yang kedua kalinya, kami akhirnya sampai di sebuah aula besar. Pintu aula dibiarkan terbuka supaya murid beserta walinya bisa bebas masuk. Guru Mila menghampiri kami setelah menyadari keberadaan kami dari jauh.
“Mila, akhirnya kamu datang juga. Wah, cantik banget rambutnya. Mama yang kepangin ya?”
“Iya, bu guru.” Jawab Mila malu-malu.
“Yuk, kita ke belakang panggung. Udah ditungguin temen-temen yang lain.”
“Semangat, sayang. Mama sama Papa cari tempat duduk yang bagus, ya. Biar bisa lihat Mila dengan jelas. Titip anak saya ya, Bu.” Ucapku kepada sang guru sebelum berpisah dengan Mila.
Aku dan Andre mencari-cari tempat duduk kosong yang strategis. Seperti menonton di bioskop, tetapi harus mencari kursi sendiri. Berkat mata jeli ini, aku menemukan dua kursi kosong yang letaknya di tengah-tengah dan tidak jauh dari panggung. Kami menuruni anak tangga perlahan, kemudian melewati para wali murid yang sudah duduk dengan tenang sambil terus mengucapkan maaf. Pada akhirnya, kami berhasil menyelamatkan tempat duduk dan yang tersisa kini hanyalah menunggu pentas dimulai.
Andre mengeluarkan ponselnya seketika itu juga dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Pikiranku terbelah menjadi dua: haruskah aku memulai percakapan atau membiarkannya begitu saja? Setelah menimbang-nimbang, aku menyimpulkan bahwa pilihan yang kedua lebih tepat karena aku takut mengatakan hal yang salah. Hidup bersamanya seperti berada di dekat bom yang tidak diketahui kapan akan meledak. Emosinya selalu meluap-luap, membuatku bingung untuk mengimbanginya.
Lampu aula mulai dipadamkan, tanda bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Di tengah kegelapan, wajah Andre terlihat berpendar akibat pantulan cahaya dari layar ponselnya. Wali murid yang duduk di sampingnya berdeham. Mungkin ia terganggu, namun Andre tidak berkutik. Dia justru tertawa, masih terpaku pada layarnya.
“Ndre, udah mau mulai. Simpan dulu handphone-nya.” Bisikku sambil menyikut Andre.
Bukan Andre namanya kalau dia tidak memasang muka masam setelah dia menganggap perkataanku menyinggung perasaannya. Aku kemudian memusatkan pandanganku lurus ke arah panggung tanpa mempedulikannya lebih lanjut. Berkali-kali Andre mendecak dan menggoyangkan kakinya secara cepat untuk menunjukkan ketidaksabarannya. Hal yang paling tidak kusukai, baik itu dilakukan oleh Andre maupun orang lain. Sepertinya dia sengaja melakukannya untuk membuatku emosi. Bertahun-tahun bersamanya mengajarkanku tentang arti kesabaran. Hal seperti ini tidak akan menggangguku.
“Selamat datang kepada para hadirin. Sesaat lagi, pertunjukan seni akan dimulai. Dimohon kerja samanya untuk tetap kondusif selama acara berlangsung demi kenyamanan bersama. Terima kasih.” Ucap seseorang melalui mikrofon.
Tidak lama kemudian, tirai yang menjuntai di atas panggung akhirnya terbuka, menampilkan sebuah set drama yang kuyakini untuk “Hansel dan Gretel”. Dari balik panggung, muncul seorang anak perempuan berpakaian rapi. Ia mengenakan kemeja putih dengan dasi pita yang dilapisi blazer berwarna biru gelap dan rok berwarna senada.
“Dahulu kala, di dekat hutan yang luas, hiduplah seorang penebang kayu yang miskin beserta istri dan kedua anaknya, Hansel dan Gretel. Suatu ketika, kelaparan melanda desa tersebut. Ia dan istrinya bahkan tidak memiliki roti untuk sehari-hari.” Anak perempuan yang berperan sebagai narator mulai menceritakan awal mula kisah Hansel dan Gretel.
Setelah menyampaikan penjelasan singkat, ia kembali ke belakang panggung. Barulah saat itu para pemain menampakkan wujudnya. Mila mengucapkan dialog pertamanya lima menit kemudian, saat tokohnya mendengar percakapan antara ayah dan ibu tirinya yang berencana meninggalkan anak mereka di hutan saat kabut tebal untuk menghemat persediaan makanan.
Melihat Mila di atas panggung dengan percaya diri membuatku terharu sekaligus bangga. Tidak ada keraguan dalam nada bicaranya dan pembawaannya pun luwes seperti saat latihan. Dalam hati, aku sempat takut jika tiba-tiba Mila menangis karena demam panggung. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda kepanikan pada raut wajah Mila. Penampilannya sungguh memukau. Aku melihat ke sekeliling. Para orang tua lainnya pun sepertinya berpikiran demikian karena mereka tidak mengalihkan pandangan mereka. Sebelum penampilan berakhir, aku merogoh ponselku di dalam tas dan mulai merekam penampilan drama tersebut.
“Hansel, kita selamat. Penyihir tua ini sudah tiada!” Mila mengucapkan dialognya. Wajahnya terlihat berbinar dengan kedua bola matanya yang membelalak, seolah-olah ia sungguh menaklukkan penyihir jahat dan selamat dari ancaman.
Anak laki-laki yang memainkan Hansel kemudian berpegangan tangan dengan Mila dan mengecek keadaan penyihir jahat untuk memastikan bahwa ia benar-benar mati. Setelah kematiannya terbukti, mereka mengambil segala harta benda berupa perhiasan dan mutiara di dalam peti harta karun milik penyihir. Drama ditutup dengan Hansel dan Gretel yang berhasil menemukan jalan untuk kembali ke rumah. Di sana, mereka bertemu ayahnya dan berpelukan dengan sukacita.
Para murid yang bertanggung jawab atas drama ini, baik itu pemain, narator, maupun mereka yang mengurus keperluan panggung, pun berkumpul di satu titik dan saling berpegangan tangan dan membungkuk sebagai penutup. Ucapan terima kasih diikuti oleh tepuk tangan meriah dari penonton. Tidak sedikit dari mereka yang rela beranjak dari tempat duduk hanya untuk memberi apresiasi yang luar biasa. Terdorong oleh antusiasme para wali murid yang lain, aku pun melakukan hal yang sama.
“Ngapain sih kayak gitu? Malu-maluin aja.” Andre menarik gaunku, mengisyaratkan supaya aku segera duduk.