Kondisi kamarku sekarang terlihat seperti kapal pecah dengan barang-barang beserta serpihannya yang tergeletak di atas lantai, sprei kasur yang berantakan, lemari yang terbuka memperlihatkan segala isinya, dan koper besar khas berpergian jauh yang kuletakkan begitu saja di atas kasur. Mila dan Mona yang duduk bersebelahan di dekat koper hanya melihatku dengan tanda tanya, sementara aku terus memasukkan baju-baju dan perlengkapan lain yang kubutuhkan ke dalam koper tersebut. Ya, pasti mereka punya banyak pertanyaan, namun enggan bertanya. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa kami akan pergi berlibur dan mereka terlihat gembira. Aku bohong. Kami tidak akan pergi berlibur. Kami akan keluar dari rumah ini. Ke mana? Aku pun tidak tahu. Aku hanya ingin pergi dari tempat yang membuatku muak sebelum kewarasanku hilang, karena tidak boleh ada dua orang gila yang tinggal dalam satu rumah.
Mengetahui jadwal Andre merupakan hal yang wajar bagiku sebagai istrinya. Aku tahu persis kapan dia akan berangkat dan pulang, kecuali jika dia harus lembur. Kali ini, aku berharap dia akan lembur dan pulang pagi seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya karena aku berniat pergi sebelum ia pulang. Baju-baju sudah siap. Selanjutnya, aku akan menunggu Mbak Asih pergi ke kamarnya dan tidur. Biasanya aku menyuruhnya untuk istirahat lebih awal jika memang tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.
Lucu rasanya bertingkah seperti tamu atau lebih tepatnya seperti pencuri di rumah sendiri. Namun, apa daya, aku harus ekstra hati-hati setelah mengetahui tidak ada orang yang berpihak kepadaku kecuali diriku sendiri dan anak-anakku. Sikap Mbak Asih tadi pagi membuatku bingung: apakah dia memilih untuk diam demi kenyamanannya atau ada hal yang lain? Sebenarnya aku ingin menanyakan alasan mengapa dia hanya diam saat ia mendengarku dengan jelas meminta tolong, ditambah melihat keadaanku yang berantakan, namun aku tidak mau ambil pusing. Diamku juga merupakan sikap kecewa. Aku tidak menghiraukannya lagi sejak itu. Setelah makan malam, aku bersama Mila dan Mona mengurung diri lagi di kamar selagi menunggu Mbak Asih melakukan hal yang sama dan beristirahat.
Bagi sebagian orang, menunggu memang pekerjaan yang membosankan. Akan tetapi, aku tidak pernah seantusias ini untuk menunggu. Mengantuk pun tidak, namun baik Mila maupun Mona sudah tertidur lelap. Aku mengambil kesempatan ini untuk memeriksa keadaan Mbak Asih dengan mengintip melalui pintu kamarnya pelan-pelan, tidak ingin tertangkap basah olehnya. Mbak Asih tidur membelakangi pintu, sehingga hanya nampak punggungnya saja. Napasnya naik turun dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia masih terjaga. Bisa kusimpulkan bahwa dia sudah terlelap dan inilah sinyal untuk pergi bersama anak-anak.
Aku tidak enak membangunkan dua putri kecil nan manis ini, namun aku juga tidak bisa menggendong keduanya sekaligus.
“Mila…Mona…yuk bangun. Kita mau pergi sekarang.”
Mila yang bangun pertama mulai mengusap-usap matanya.
“Pergi ke mana, Ma?”
“Liburan.” Jawabku singkat.
Aku berharap Mona juga ikut bangun, namun sepertinya dia sudah menjelajahi dunia mimpi terlalu jauh dan tidak mungkin untuk bangun dalam waktu dekat. Alhasil, aku akhirnya memakai hipseat carrier dan meletakkan Mona di depan dadaku tanpa ada perlawanan. Begini seharusnya aman. Aku sekali lagi memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal. Kubawa koper besar beserta tas jinjing menuruni tangga dengan pelan. Adegan yang biasa kulihat di film tidak kusangka akan terjadi padaku juga: seorang ibu yang diam-diam melarikan diri bersama kedua anaknya dengan modal nekat dan doa.
Mila masih memegang tanganku dengan wajah setengah ngantuk. Ide liburan memang membuatnya senang saat pertama kali mendengarnya, namun hal itu tidak bisa melawan rasa kantuknya. Berkali-kali aku harus memastikan Mila tidak tertidur dan membujuknya untuk tidur setelah berada di dalam mobil. Sejauh ini belum ada masalah. Aku buru-buru mengunci pintu utama dan bergegas menuju mobil yang kuparkir di samping rumah. Semoga saja Mbak Asih tidak terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara kunci mobil terbuka, apalagi jika mesin sudah dinyalakan. Ah, bodo amat. Aku harus segera pergi dari sini. Setelah Mila duduk dengan nyaman di kursi belakang, aku meletakkan Mona di kursi bayi yang berada di sebelahnya. Mila yang sudah mengantuk langsung membenamkan wajahnya ke dalam bantal kecil yang ia peluk. Kutancapkan gas dan kubiarkan roda-roda mobil melaju tanpa tujuan yang jelas.
Saat menyetir, pikiranku terasa kosong. Jujur saja, aku tidak tahu harus ke mana lagi. Orang tuaku berada di luar kota. Jika aku nekat ke sana, maka aku harus menempuh jarak yang amat jauh dan aku tidak yakin bisa menyetir sejauh itu. Bisa dibilang aku hidup sebatang kara di kota ini, karena teman pun aku tidak punya. Mereka semua hanya sebatas teman kerja dan aku tidak enak jika malam hari harus merepotkan mereka. Menceritakan kronologinya pun aku tidak sudi; yang ada hanya akan membuat kepalaku mendidih. Maka, aku hanya menyetir mengikuti jalan. Berharap akan datangnya sebuah petunjuk dari semesta yang datangnya tiba-tiba.
Entah sudah berapa kilo kutempuh, lampu indikator bensin pun berkedip-kedip. Kulihat jarum indikator menunjuk ke huruf ‘E’, menandakan bensin akan habis. Akan sangat konyol jika mobil tiba-tiba mogok dan berhenti di jalan. Maka aku memutuskan untuk menuju pom bensin terdekat sekaligus menepi sebentar, sambil mencari-cari tempat tinggal untuk sementara. Kebetulan perutku terasa lapar. Tidak ada salahnya aku membeli beberapa makanan ringan serta minuman di minimarket. Antrean pada malam hari itu tidak panjang, sehingga aku tidak harus meninggalkan kedua anakku berlama-lama sendirian di dalam mobil.
“Totalnya jadi Rp 237.000 ya, Bu.” Ucap pegawai kasir sambil menunjukkan nominal yang tertera pada layar.
Aku membayar menggunakan kartu debit. Setelah itu, aku berjalan menuju mobil dan membuka aplikasi map pada ponselku. Pada kolom pencarian, aku mengetik ‘sewa kamar’ dan banyak pilihan mulai muncul satu per satu. Aplikasi tersebut sepertinya mengurutkan dari rating tertinggi sampai terendah. Aku menghabiskan banyak waktu hanya untuk menemukan tempat yang pas. Ada tiga hal yang kuperhatikan: kebersihan, lokasi, dan keamanan. Semakin jauh dari rumahku, semakin baik. Karena aku membawa dua anak kecil, aku mengharapkan lingkungan yang tenang dan jauh dari pengaruh buruk.
Sepertinya sudah ada lebih dari setengah jam aku menimbang-nimbang pilihan, namun tak kunjung menemukan tempat yang pas hingga akhirnya sebuah wisma dengan nama yang unik mencuri perhatianku. Tempat itu bernama Paviliun Randa Tapak. Aku melihat foto-fotonya yang diambil dari berbagai macam sudut rumah. Mulai dari taman, gazebo kecil, pintu masuk, ruang tamu, ruang tamu kedua, dapur, kamar mandi utama, dan kamar tidur. Harganya bisa dibilang sangat terjangkau dengan fasilitas yang ditawarkan. Selain itu, rumah ini pun terlihat bersih. Di bawah galeri foto, ada kolom ulasan. Hanya ada dua orang yang memberikan ulasan. Mungkin tempat ini baru saja selesai dibangun, begitu dugaanku. Waktu terus berjalan dan aku tidak ingin berada di jalan lebih lama lagi. Aku menyalakan navigasi dan menuju Paviliun Randa Tapak dengan harapan mereka masih menerima tamu pada larut malam.
Pukul 22.38, aku tiba di tempat tujuan. Saat hendak turun, tiba-tiba saja terdengar rintik hujan. Bagus, seakan hariku tidak bisa lebih buruk lagi. Aku membangunkan Mila dan melepaskan Mona dari tempat duduknya dengan tergesa-gesa. Urusan barang bawaan belakangan, yang terpenting sekarang adalah turun terlebih dahulu dan berteduh. Aku menekan bel yang terdapat di dinding dekat pintu. Sekali, dua kali. Ketika aku ingin membunyikan bel untuk yang ketiga kalinya, seorang wanita paruh baya muncul, diikuti oleh seorang wanita muda.
“Astaga, masuk dulu. Odie, tolong bikinkan teh ya.”
Wanita muda bernama Odie tersebut bergegas menjalankan perintahnya.
“Maaf, Bu, saya datang malam-malam. Apakah masih ada kamar kosong yang bisa ditempati untuk tiga orang?” tanyaku sambil menggenggam tangan Mila erat-erat.
“Ada. Tentu saja ada. Apa kamu berniat menginap semalam di sini?”
Ah, dia pasti mengira aku mencari tempat berteduh untuk semalam saja karena hari sudah gelap. Apa aku jujur saja tentang alasanku datang ke tempat ini malam-malam?
“Saya mau menyewa kamar untuk waktu yang lama, Bu.”
“Boleh, boleh. Di sini kebetulan hanya ada dua orang selain saya dan mereka semua perempuan.” Wanita tersebut melihatku dengan tatapan melas. Matanya bergantian memandangi anak-anakku dan aku yang setengah basah. “Mari, duduk dulu,” lanjutnya.